16.6.20

Rutinitas Harian Merawat Kulit Wajah

Lingkungan alam sekitar kita tidak selalu aman. Bahkan unsur-unsur lingkungan yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia selalu mengandung sisi lain yang ternyata merugikan diri kita. 

Misalnya saja, matahari yang sinarnya sangat berguna di saat-saat tertentu bisa menjadi faktor penyebab kerusakan kulit, mulai kekeringan dan keriput hingga kanker kulit. 

Begitu juga dengan api di kompor kita yang betul betul dibutuhkan untuk memasak. Bersamaan dengan penggunaan manfaatnya itu panasnya pun bisa merusak kulit kita. Bahkan, sinar lampu konon dapat membuat kulit jadi kering dan cepat keriput. 

Untuk mendapatkan kulit sehat dan mencegah penuaan dini, memang memerlukan usaha perawatan

Itulah fakta yang ada di sekitar kita, tapi tidak harus membuat para wanita menjadi takut keluar rumah atau memasak di dapur. Sebab pengaruh buruk itu dapat diredam dengan beberapa cara, mulai dari perawatan kulit Sampai melindungi diri dengan alat-alat bantu seperti payung atau topi. 

Untuk mendapatkan kulit sehat dan mencegah penuaan dini, memang memerlukan usaha perawatan kulit yang intensif. Sebenarnya usaha itu sederhana saja. Tidak rumit dan sulit, namun seringkali para wanita dan lupa, atau kalaupun tahu mereka malas meluangkan waktu untuk itu.

Minimal, lakukan perawatan wajah harian rutin berikut ini:

  • Merawat kulit muka dimulai dengan pembersihan menggunakan susu pembersih setiap pagi dan malam menjelang tidur
  • Oleskan susu pembersih ke muka dengan gerakan melingkar lalu usaplah dengan kapas hingga bersih
  • Lalu lanjutkan dengan sabun muka yang lembut karena saya yakin masih ada kotoran yang tersisa meskipun sudah menggunakan susu pembersih. 
  • Setelah itu, barulah membubuhkan tonik yang sesuai dengan jenis kulit Anda untuk menutup pori-pori. 

Disarankan untuk tidak menggunakan pembersih two in one karena terlalu banyak unsur alkalinya. Juga sabun yang banyak busanya tidak mereka anjurkan.

Selain itu lakukan kegiatan memberi masker serta menghilangkan sel-sel kulit mati dengan scrub hanya seminggu sekali atau maksimal seminggu tiga kali. 

Jangan menggunakan scrub setiap hari karena akan merusak kulit dan tidak memberi kesempatan pada kulit untuk menumbuhkan lapisan sel baru dan menyebabkan iritasi.

Pelembab, katanya, harus selalu digunakan sepanjang hari, meskipun Anda berada di dalam rumah. Hal ini karena di dalam rumah pun Anda biasanya melakukan kegiatan memasak atau berada di bawah sinar lampu. 

Jangan lupa untuk membubuhkan krim mata pada pagi dan malam hari, menggunakan night cream atau krim malam. 

Remaja usia 17 tahun harus mulai menggunakan krim mata agar daerah sekitar mata tidak cepat keriput. 

Sebelum menggunakan bedak, terlebih dulu pakailah pelembab yang mengandung minimal SPF 15. Lalu bubuhkan foundation atau alas bedak secara merata. Foundation pun ada yang mengandung SPF.

Setelah keduanya dilakukan, barulah membubuhkan bedak. 

Dalam pemakaian make up seperti eye shadow maupun pemulas bibir tidak selalu harus "mengikuti aturan", dengan warna senada. Seseorang tidak harus mengidentifikasi riasan dirinya pada make up orang lain, karena ia berhak menentukan apa yang terbaik dan pantas bagi dirinya. 

Memberi sentuhan warna biru atau hijau tosca pada riasan berwarna dominan coklat di kulit sawo matang orang Indonesia, tentu sah-sah saja.

Jadi, lanjutnya, kita boleh saja mengabaikan "aturan-aturan" yang konvensional, mulailah pilih warna yang sesuai keinginan dengan diri sendiri, sesuai konsep diri.

Tentu saja pembubuhan warna kontras atau "tabrakan" harus disesuaikan dengan usia seseorang. Wanita 40 tahunan tentu kurang cocok menggunakan warna biru yang disapukan keluar mata. Namun riasan seperti itu dengan sapuan biru agak keluar mata-akan tampak pantas jika dikenakan para remaja yang enerjik.





Label: ,

3.6.20

Ikan Penolak Depresi

Makan ikan mencegah depresi

Ikan merupakan makanan yang baik untuk otak anak, semua orang sudah mengetahuinya. Tapi ikan apakah Anda juga pernah mendengar bahwa ikan bisa mencegah depresi?

Ada beberapa penelitian yang menunjukkan hubungan antara konsumsi ikan dan penurunan risiko depresi. Hubungan antara konsumsi ikan dan depresi sudah dipelajari oleh sejumlah lembaga dan ahli, termasuk universitas, lembaga penelitian, dan rumah sakit.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Departemen Epidemiologi dan Statistik Kesehatan di Fakultas Kedokteran Universitas Qingdao menemukan bahwa konsumsi ikan yang tinggi terbukti dapat mengurangi risiko depresi. 

Studi serupa juga dilakukan di Jepang (negara dengan budaya makan ikan). Hasilnya menunjukkan bahwa asupan harian ikan dan/atau suplemen minyak ikan sangat terkait erat dengan penurunan risiko depresi.


Mengapa ikan bisa meredakan depresi?

Ada apa dengan ikan? 

Apa yang dimiliki ikan sehingga dapat menurunkan risiko depresi?

Ikan adalah sumber asam omega-3 yang baik, yang dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental dan pencegahan depresi. Asam omega-3 memainkan peranan penting dalam pembentukan neuron dan neurotransmiter yang berkaitan dengan suasana hati dan perilaku.

Asam lemak omega-3 terdiri dari tiga jenis utama, yaitu eicosapentaenoic acid (EPA), docosahexaenoic acid (DHA) dan alpha-linolenic acid (ALA). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa EPA dan DHA terkait dengan pencegahan dan pengobatan depresi.

EPA dan DHA berperan penting dalam pembentukan neuron dan neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin yang berkaitan dengan suasana hati dan perilaku. Penelitian juga menunjukkan bahwa suplemen omega-3 yang tinggi EPA dapat membantu mengurangi gejala depresi pada beberapa orang.


Pengaruh asam lemak omega-3 pada otak

Penelitian menunjukkan otak manusia membutuhkan lemak tertentu untuk berfungsi secara normal. Salah satu lemak yang baik untuk kinerja otak adalah asam lemak mengandung omega-3, yang paling banyak ditemukan pada ikan. 

Ketika otak tidak mendapatkan cukup lemak, otak tidak bekerja sebagaimana mestinya. Kekurangan lemak esensial ini antara lain dapat menyebabkan depresi, autisme, dan disleksia. Selain itu, efek stres, alkohol, nikotin, dan kafein dapat mengurangi jumlah serapan asam lemak oleh tubuh.

Itu sebabnya penderita depresi disarankan untuk makan ikan secara teratur. Selain bekerja pada otak, manfaat lain dari lemak ini adalah dapat memperbaiki kondisi rambut, kuku, dan kulit.

Berikut adalah beberapa manfaat asam lemak omega-3:

  • Menjaga Kesehatan Jantung: Asam lemak omega-3 dapat membantu mengurangi risiko serangan jantung dan stroke dengan mengurangi kadar trigliserida dan meningkatkan kadar lipid darah.
  • Menjaga Kesehatan Otak: Asam lemak omega-3 berperan penting dalam pembentukan dan fungsi sel saraf serta dapat membantu mengurangi gejala depresi, skizofrenia, dan demensia. 
  • Meningkatkan Kesehatan Mata: Omega-3 dapat membantu menjaga kesehatan mata dan mencegah kehilangan penglihatan yang berkaitan dengan usia.
  • Mencegah peradangan: Asam lemak omega-3 dapat membantu mengurangi peradangan yang terkait dengan berbagai kondisi, termasuk radang sendi, asma, dan penyakit autoimun.
  • Membantu membangun tulang dan sendi: Asam lemak omega-3 dapat membantu memperkuat tulang dan mengurangi risiko kerusakan sendi.


Namun perlu diperhatikan bahwa makan ikan saja tidak serta merta menghilangkan depresi. Faktor risiko depresi meliputi berbagai hal, seperti: faktor genetik, lingkungan, stres dan gaya hidup.

Mencegah dan mengobati depresi biasanya melibatkan beberapa tindakan, seperti terapi, perubahan gaya hidup, dan pengobatan.

Untuk manfaat kesehatan terbaik, sangat disarankan agar Anda memasukkan ikan ke dalam makanan Anda sebagai sumber alami protein dan asam lemak omega-3, serta menerapkan gaya hidup sehat lainnya seperti olahraga dan tidur yang cukup.

Jika Anda memutuskan untuk mengganti makan ikan dengan minum suplemen omega-3, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter dan ahli gizi Anda. Karena perlu diingat bahwa bukti keefektifan omega-3 dalam pencegahan dan pengobatan depresi masih terbatas dan diperlukan lebih banyak penelitian.

Berkonsultasi dengan dokter Anda sangat penting untuk memastikan bahwa suplemen makanan ini sesuai dengan kebutuhan Anda dan tidak memiliki interaksi negatif timbulnya seperti efek samping atau kemungkinan adanya interaksi dengan obat lain yang Anda minum.


Referensi

  • Li, Fang, Xiaoqin Liu, and Dongfeng Zhang. "Fish consumption and risk of depression: a meta-analysis." J Epidemiol Community Health 70.3 (2016): 299-304. (Tautan)
  • Matsuoka, Y. J., et al. "Dietary fish, n-3 polyunsaturated fatty acid consumption, and depression risk in Japan: a population-based prospective cohort study." Translational psychiatry 7.9 (2017): e1242-e1242. (Tautan)

    Sumber foto: pexels

    Label: , , , , , ,