2.1.23

Pola Makan Salah Undang Penyakit Degeneratif

Pola Makan Salah Undang Penyakit Degeneratif

DOKTERINE.INFO - Hati-hati dengan apa yang Anda makan. Peringatan ini berlaku untuk yang terbiasa mengonsumsi makanan berlemak tinggi, tapi rendah serat. 

Makanan rendah serat merupakan musuh utama tubuh dan berpotensi mengundang berbagai penyakit degeneratif. 

Sebut saja misalnya stroke, kegemukan (obesitas), diabetes mellitus, kanker, tekanan darah tinggi (hipertensi), juga osteoporosis. 

Penyebab Munculnya Penyakit Degeneratif

Perubahan pola makan, terutama di kota-kota besar mengakibatkan tingginya penderita penyakit degeneratif. 

Penyakit degeneratif adalah penyakit yang saling berinteraksi satu sama lain sehingga bisa berdampak terhadap kesehatan secara keseluruhan. 

Pola makan yang sangat mempengaruhi terjadinya penyakit degeneratif adalah faktor lemak buruk yang berasal dari  junk food. Banyak orang muda yang memiliki pola makan tidak sehat.

Mereka yang merasa memiliki waktu serba sedikit lebih memilih makanan cepat saji sebagai menu utama. Tak heran jika semakin hari semakin banyak terjadi peningkatan penderita penyakit degeneratif. Tidak hanya pada usia lanjut, tapi juga pada usia yang lebih muda yakni di bawah usia 45 tahun. 

Penyakit degeneratif yang jumlah penderitanya mengalami kenaikan secara signifikan adalah penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Penyakit ini umumnya disebabkan oleh penyumbatan (arteriosklerosis) di pembuluh darah koroner, pembuluh darah otak atau pembuluh darah perifer. 

Arteriosklerosis merupakan sindrom yang disebabkan oleh berbagai faktor risiko.

Faktor risiko yang dimaksud di antaranya adalah hipertensi, merokok, diabetes mellitus, kurang olahraga, dan stres. 

Faktor risiko jenis ini dapat diubah. Ini mengingat faktor tersebut lebih dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola makan. 

Pola Makan Orang Indonesia

Sebenarnya, pola makan khas masyarakat Indonesia sangat sehat. Sebagai sumber energi, masyarakat kita mengonsumsi beras, jagung, umbi-umbian, dan sagu. 

Selain itu, penduduk Indonesia juga mengonsumsi banyak sayuran, buah-buahan, selain lauk pauk sebagai sumber protein. Tapi westernisasi makanan mengubah pola makan yang sebenarnya sehat itu, menjadi kurang sehat. 

Akibat pengaruh pola makan Barat, kini masyarakat Indonesia pun menggemari makanan-makanan cepat saji ala barat yang rendah kandungan serat dan tinggi kadar gulanya. Sementara kandungan lemak pada makanan cepat saji itu juga sangat tinggi.

Lebih baik mencegah 

Bagaimana pun mencegah penyakit lebih baik daripada mengobati. Ini Juga berlaku untuk penyakit-penyakit degeneratif. 

Tapi bagaimana caranya? 

Secara umum pencegahan yang bisa dilakukan adalah berolahraga secara teratur, tidak mengonsumsi alkohol, dan tidak merokok. 

Usahakan juga untuk tidur nyenyak selama minimal delapan jam serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan berkala.

Tidak kalah pentingnya adalah pencegahan yang terkait dengan pola makan seperti membatasi pemakaian gula dan makan minum yang terlalu manis. 

Demikian juga dengan pemakaian garam secara berlebihan. Juga perlunya membatasi makanan yang mengandung purin misalnya jeroan, kaldu, emping, dan tape. 

Selain itu, membudayakan konsumsi sayur sayuran sangat membantu untuk meningkatkan kesehatan. 

Pada penyakit jantung dan pembuluh darah misalnya, pencegahan yang terbaik adalah dengan menurunkan konsumsi lemak dan meningkatkan asupan serat.

Benarkah pola makan vegan menyehatkan?

Pada saat yang sama, muncul juga pola makan lain yang diyakini menyehatkan yaitu pola makan tanpa daging. Artinya, penganut pola makan ini hanya mengonsumsi sumber pangan nabati. 

Inilah yang dikenal sebagai pola makan vegan dan vegetarian. Para vegetarian yang masih menyertakan telur dan atau susu, dan makanan olahan dari susu (misalnya keju) pada diet harian mereka. Sedangkan vegan sepenuhnya tidak makan semua produk hewan dan turunannya.

Dalam beberapa dekade terakhir, gaya hidup semacam ini kian diminati. Kenyataan bahwa lemak berisiko mengundang penyakit degeneratif, membuat sejumlah kalangan memilih untuk menjadi vegan atau vegetarian. 

Banyak pendapat soal ini. Tapi setidaknya hasil penelitian menunjukkan, risiko laki-laki vegetarian usia 45-64 tahun terkena penyakit  jantung turun sampai 60 persen. Prevalensi kematian pada kelompok vegetarian memang lebih kecil dibandingkan yang masih makan daging.

Di Indonesia sendiri gaya hidup vegetarian mulai diminati. Tidak hanya oleh mereka yang memiliki keyakinan tertentu, melainkan juga oleh masyarakat umum. Tapi apa pun gaya hidup Anda, Pola makan sehat dan seimbang adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.


Label: ,

0 Comments:

Posting Komentar

<< Home