Beribu Cara Atasi Ketidaksuburan
DOKTERINE.INFO - Bagi banyak pasangan, buah hati yang tidak kunjung datang bisa mengundang beragam persoalan. Ini memang masalah universal yang bisa berlangsung dimanah saja di Indonesia, Eropa, sampai Afrika. Kasus yang terjadi bisa berbentuk saling menyalahkan antar pasangan, tekanan keluarga, perceraian, sampai dikucilkan dari kegiatan masyarakat.
Di beberapa etnik di Indonesia, bahkan sudah punya anak perempuan pun tetap saja masih kurang karena belum ”menghasilkan” anak laki-laki yang dianggap bisa meneruskan garis keturunan. Akan tetapi, kalau di Indonesia tidak punya anak gangguannya paling ditanya-tanya terus —plus sejuta nasihat dan saran berobat—maka pasangan-pasangan di suatu kawasan di Afrika bisa lebih menderita lagi: mereka dikucilkan dari berbagai kegiatan sosial karena dianggap membawa sial.
Karena itu, upaya untuk mengatasi ketidaksuburan juga tak henti-hentinya dilakukan. Mulai dari melakukan hal-hal yang bersifat mitos: mengangkat anak untuk "memancing” datangnya si anak kandung misalnya, pendekatan spiritual, pengobatan tradisional, sampai memanfaatkan — kecanggihan teknologi kedokteran.
![]() |
| Sumber foto: pexels |
Apa yang menyebabkan ketidaksuburan?
Dunia kesehatan sendiri memang terus mencoba mengatasi ketidaksuburan dan terus mengalah yang membuat pasangan menjadi sulit mempunyai keturunan. Statistik menyebutkan bahwa 40 persen ketidakhadiran anak disebabkan oleh gangguan kesuburan pada pria, 40 persen lagi oleh gangguan kesuburan para perempuan, dan 20 persen sisanya oleh hal-hal yang belum diketahui sebabnya.
Ketidaksuburan dapat disebabkan oleh sejumlah faktor yang berbeda, baik pada sistem reproduksi pria maupun wanita. Namun, terkadang infertilitas terjadi karena sebab yang belum bisa dijelaskan.
Pada sistem reproduksi wanita, ketidaksuburan dapat disebabkan oleh:
- Gangguan tuba seperti tuba falopi yang tersumbat, yang pada gilirannya disebabkan oleh infeksi menular seksual (IMS) yang tidak diobati atau komplikasi aborsi yang tidak aman, sepsis pasca persalinan, atau pembedahan abdomen/panggul;
- Gangguan rahim yang dapat bersifat inflamasi (seperti endometriosis), bawaan lahir (seperti septate uterus), atau jinak (seperti fibroid);
- Gangguan pada ovarium, seperti sindrom ovarium polikistik dan gangguan folikel lainnya;
- Gangguan pada sistem endokrin yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon reproduksi. Sistem endokrin meliputi hipotalamus dan kelenjar hipofisis. Contoh gangguan umum yang memengaruhi sistem ini termasuk kanker hipofisis dan hipopituitarisme.
Pada sistem reproduksi pria, infertilitas dapat disebabkan oleh:
- Penyumbatan pada saluran reproduksi yang menyebabkan disfungsi pengeluaran air mani. Penyumbatan ini dapat terjadi pada saluran yang membawa air mani (seperti saluran ejakulasi dan vesikula seminalis). Penyumbatan biasanya disebabkan oleh cedera atau infeksi pada saluran genital.
- Gangguan hormonal yang menyebabkan kelainan pada hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis, hipotalamus, dan testis. Hormon seperti testosteron mengatur produksi sperma. Contoh gangguan yang menyebabkan ketidakseimbangan hormon termasuk kanker hipofisis atau testis.
- Kegagalan testis untuk memproduksi sperma, misalnya akibat varicosel atau perawatan medis yang merusak sel penghasil sperma (seperti kemoterapi).
- Fungsi dan kualitas sperma yang tidak normal. Kondisi atau situasi yang menyebabkan bentuk (morfologi) dan pergerakan (motilitas) sperma yang tidak normal dapat mempengaruhi kesuburan. Sebagai contoh, penggunaan steroid anabolik dapat menyebabkan parameter air mani yang tidak normal seperti jumlah dan bentuk sperma.
- Faktor lingkungan dan gaya hidup seperti merokok, asupan alkohol yang berlebihan, dan obesitas dapat mempengaruhi kesuburan. Selain itu, paparan polutan dan racun lingkungan dapat secara langsung menjadi racun bagi gamet (sel telur dan sperma), yang mengakibatkan penurunan jumlah dan kualitasnya, yang menyebabkan infertilitas.
Teknologi Reproduksi Berbantu
Teknologi Reproduksi Berbantu (Assisted Reproductive Technology/ART) mengacu pada penggunaan prosedur dan teknologi medis untuk membantu orang supaya bisa hamil. ART biasanya digunakan oleh pasangan yang mengalami kesulitan untuk hamil secara alami, karena berbagai alasan seperti ketidaksuburan, usia, atau kondisi medis.
Beberapa jenis ART yang paling umum meliputi:
- Fertilisasi in vitro (bayi tabung): Proses penggabungan sel telur dan sperma di dalam cawan laboratorium dan kemudian memindahkan embrio yang dihasilkan ke dalam rahim.
- Injeksi sperma intracytoplasmic (ICSI): Prosedur di mana satu sperma disuntikkan langsung ke dalam sel telur untuk memfasilitasi pembuahan.
- Pemindahan gamet intrafallopi (GIFT): Prosedur di mana sel telur dan sperma dikumpulkan dan kemudian ditempatkan ke dalam tuba falopi, di mana pembuahan dapat terjadi secara alami.
- Pemindahan intrafallopi zigot (ZIFT): Prosedur pemindahan sel telur yang telah dibuahi (zigot) ke dalam tuba falopi, di mana sel telur tersebut dapat berimplantasi dan berkembang.
- Sel telur atau sperma donor: Penggunaan sel telur atau sperma yang disumbangkan dari pihak ketiga untuk memfasilitasi pembuahan.
ART dapat menjadi pilihan yang efektif bagi pasangan yang telah mencoba untuk hamil tanpa hasil, tetapi bukan berarti tanpa risiko dan potensi komplikasi.
Perjalanan Sejarah Teknologi Reproduksi Berbantu
Sejarah teknologi reproduksi berbantu (ART) dapat ditelusuri hingga ke awal abad ke-20, saat para ilmuwan pertama kali mulai mempelajari reproduksi dan kesuburan manusia. Namun, kelahiran manusia pertama yang berhasil yang dihasilkan dari ART baru terjadi pada tahun 1978 dengan kelahiran Louise Brown di Inggris.
Sebelum tonggak sejarah ini, para ilmuwan telah bekerja pada berbagai teknik ART, termasuk fertilisasi in vitro (IVF), transfer embrio, dan inseminasi buatan. Pada tahun 1940-an dan 1950-an, para peneliti di Amerika Serikat mulai bereksperimen dengan inseminasi buatan menggunakan sperma donor untuk membantu pasangan yang mengalami ketidaksuburan karena faktor pria.
Salah satu tonggak penatalaksanaan infertilitas berawal tahun 1960an, saat dimulainya penggunaan stimulan ovulasi. Dengan berkembangnya teknik laparoskopi, sel-sel telur yang dipercepat pematangannya ini dikeluarkan untuk kemudian dibuahi dan dikembalikan ke dalam rahim.
Selama tahun 1970-an, penelitian mengenai ART terus berkembang, dan transfer embrio pertama yang berhasil dilakukan di Australia pada tahun 1973. Pada tahun 1977, bayi pertama yang dikandung melalui program bayi tabung lahir, tetapi sayangnya, bayi tersebut meninggal tak lama setelah lahir. Akhirnya, pada tahun 1978, Louise Brown lahir, menandai tonggak penting dalam sejarah ART.
Sejak saat itu, ART terus berkembang dan meningkat, dengan teknik dan teknologi baru yang dikembangkan dan disempurnakan. Saat ini, jutaan bayi telah lahir di seluruh dunia sebagai hasil dari ART, dan telah menjadi praktik yang diterima secara luas dan umum bagi pasangan yang berjuang dengan infertilitas atau masalah reproduksi lainnya.
Teknik inseminasi intra uterin, fertilisasi in vitro dan transfer embrio, teknik simpan beku, dan stimulasi dengan hormon analog yang ditemukan tahun 1980an, melengkapi upaya-upaya sebelumnya untuk menolong pasangan-pasangan yang infertil.
Pada tahun 1990an berkembang teknik mikro yang dapat digunakan untuk mengatasi gangguan sperma berat seperti teknik partial zone dissection (PLZD), intra cytoplasmic sperm injection (ICSI), dan subzona sperm insertion (Susi). Pada perkembangan berikutnya, para dokter mulai memanfaatkan teknik memperoleh sperma dalam keadaan azospermia. Teknik ini yang disebut microsurgical epidymal sperm aspiration (MESA), percutaneous spermaspiration (Pesa), dan testicular sperm extraction (Tese).
Perkembangan paling mutakhir tentu saja adalah teknik kloning yang menghebohkan itu. Sejak keberhasilan melahirkan Dolly dan Tetra, domba dan kera hasil kloning, para ilmuwan memang banyak yang tergoda untuk menerapkan teknik kloning pada manusia. Tak punya sel sperma? Tak punya sel telur? Tak ada masalah. Tinggal mengambil inti sel dari salah satu bagian tubuh ayah atau ibunya, kemudian dititipkan di sel-sel tertentu sampai terjadi pembelahan, lalu ditanam di rahim sampai embrio berkembang sempurna.
Meski masih menjadi debat pro dan kontra, baru-baru ini sekelompok ilmuwan telah mengumumkan untuk melakukan riset kloning manusia. Sementara salah satu negara yang sudah menyetujui riset di bidang itu adalah Inggris, lewat pernyataan resmi parlemen dan pemerintahnya. Puncaknya adalah persetujuan House of Lords (Majelis Tinggi) Inggris lewat voting awal tahun ini, yang menyetujui adanya peraturan-peraturan pemerintah untuk mengizinkan riset kloning embrio manusia yang terbatas.
Stigma Sosial Pasangan yang Tidak Memiliki Anak
Infertilitas adalah masalah yang kompleks dan sensitif, dan sayangnya, banyak orang yang berjuang dengan infertilitas juga menghadapi penghakiman dan stigma sosial. Ketidaksuburan dapat dilihat sebagai kegagalan pribadi atau sumber rasa malu, yang dapat menyebabkan perasaan terisolasi, depresi, dan kecemasan.
Beberapa penilaian sosial yang mungkin dihadapi oleh orang-orang dengan infertilitas meliputi:
- Menyalahkan individu atau pasangan: Orang-orang mungkin dengan cepat berasumsi bahwa ketidaksuburan adalah hasil dari kesalahan yang dilakukan oleh individu atau pasangan, seperti menunggu terlalu lama untuk mulai mencoba hamil, terlibat dalam perilaku yang tidak sehat, atau tidak terlalu menginginkan anak.
- Mengabaikan masalah: Ketidaksuburan dapat dianggap sebagai ketidaknyamanan kecil atau bukan masalah, yang dapat meminimalkan dampak emosional yang ditimbulkan pada individu dan pasangan yang sedang berjuang untuk hamil.
- Ketidakpekaan: Teman dan anggota keluarga mungkin secara tidak sengaja mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyakitkan atau tidak sensitif, seperti membuat lelucon tentang ketidaksuburan atau mengajukan pertanyaan yang invasif.
- Sikap budaya dan agama: Pada beberapa budaya atau agama, mungkin terdapat tekanan yang kuat untuk memiliki anak, dan ketidaksuburan dapat dilihat sebagai sumber rasa malu atau kegagalan dalam memenuhi peran sebagai orang tua atau anggota masyarakat.
- Dukungan dan sumber daya yang terbatas: Infertilitas dapat menjadi masalah yang mahal dan memakan waktu untuk ditangani, dan banyak orang mungkin tidak memiliki akses ke sumber daya dan dukungan yang mereka butuhkan untuk mengatasi beban emosional dan finansial akibat infertilitas.
Label: IND, Kesehatan, Pengobatan, Perempuan, Reprodruksi

0 Comments:
Posting Komentar
<< Home