11.1.23

Fakta dan Mitos Tentang Epilepsi yang Perlu Anda Ketahui

dokterine.info -- Cetusan listrik yang berlebihan di otak penderita epilepsi terjadi karena gangguan atau aktivitas berlebihan dari sekelompok neuron. Bukan karena kesambet, kesurupan atau kena kutukan.

Epilepsi Bukan Penyakit Turunan
Sumber foto: pixabay


Epilepsi Bukan Penyakit Turunan

Epilepsi (atau dulu disebut ayan atau sawan), oleh kebanyakan masyarakat awam masih saja dilekatkan dengan stigma yang sangat tidak mengenakkan. Epilepsi, kata mereka, merupakan penyakit kutukan, disambit setan, atau gila. Sementara sebagian lagi mengatakan epilepsi bisa menular sehingga penyandang epilepsi banyak yang dikucilkan, atau bahkan dipasung oleh keluarga mereka. 

Mengacu dari data WHO, ada 50 juta penderita epilepsi di seluruh dunia. Sekitar 80% penderitanya berasal dari negara miskin dan berkembang. Proporsi populasi penderita epilepsi aktif adalah 4 sampai 10 orang per 1000 populasi. Dengan demikian angka prevalensinya 0,4-1,0% dari jumlah populasi.

Jumlah penyandang epilepsi di Indonesia tidak diketahui secara pasti mengingat masih banyak penyandang epilepsi yang dikurung atau disembunyikan oleh keluarga mereka. Jika mengacu pada angka prevalensi penderita epilepsi dari WHO, maka jika saat ini penduduk Indonesia ada sebanyak 273 juta, maka jumlah penderita epilepsi di Indonesia ada kurang lebih antara 1-2,7 juta penderita.


Bagaimana Epilepsi Bisa terjadi

Otak manusia tidak berbeda dengan sebuah komputer. Di dalam komputer, berbagai komponen saling berhubungan melalui impuls listrik yang sangat kecil. Begitu pula otak manusia, sel-sel otak saling berhubungan satu sama lain.

Melalui impuls listrik yang sangat kecil, manusia bisa bergerak, berbicara, dan melakukan berbagai aktivitas lain karena adanya fungsi otak yang digerakkan oleh suatu aliran listrik di dalam otak. 

Pada penyandang epilepsi, terjadi cetusan listrik yang berlebihan di otak. Hal ini terjadi karena adanya gangguan atau aktivitas berlebihan dari sekelompok neuron (sel-sel otak). Apa yang membuat sel-sel itu terlalu aktif sebenarnya hingga kini belum diketahui secara pasti. 

Cetusan inilah yang menyebabkan terjadinya serangan pada penyandang epilepsi. Sehingga dia tidak bisa mengontrol gerakan. Jadi gerakan kita terlihat seperti gerakan orang yang kejang, sebenarnya itu aktivitas otot yang berlebihan. Begitu aliran listrik itu habis dan kembali ke normal, serangan akan otomatis berhenti.


Faktor yang Jadi Penyebab Munculnya Epilepsi

Terganggunya sel-sel otak pada penyandang epilepsi bisa disebabkan banyak hal. Pertama, tidak tertutup kemungkinan seseorang sudah mempunyai tendensi untuk terjadinya cetusan listrik berlebihan di otak sejak ia dilahirkan. Tendensi ini bisa menjadi semakin kuat dalam masa pertumbuhan.

Faktor genetik juga mempunyai andil (Meski epilepsi bukan penyakit keturunan), namun demikian sangat kecil.  Faktor genetik ini hubungannya sangat kompleks dan berkaitan dengan bermacam-macam kelainan, misalnya ada gangguan dengan pada metabolisme, dan lain sebagainya.

Epilepsi bisa terjadi pada seseorang yang lahir dengan down syndrome. Orang dengan down syndrome  otaknya tidak berkembang dengan baik sejak lahir. Sehingga fungsi dari otak itu tidak bisa betul-betul bagus.

Trauma lahir juga bisa berujung pada epilepsi. Misal, apakah pada saat dia lahir terjepit atau tidak, pakai tang atau tidak, pakai vakum atau tidak, kelahiran seperti itu mungkin saja menyebabkan perdarahan di otak ketika masih bayi, tapi tidak terdeteksi.

Selain itu, epilepsi bisa merupakan gejala sisa dari kasus infeksi atau radang otak pada masa pertumbuhan. Ini juga bisa menyebabkan gejala sisanya berupa gangguan dari fungsi otak, yang berarti juga bisa mengganggu fungsi listrik di otak.

Kecelakaan, geger otak, bahkan stroke, juga bisa menimbulkan gejala sisa berupa epilepsi. Pendek kata, segala sesuatu yang bisa menyebabkan otak itu rusak, berarti berpotensi mengganggu fungsi otak. Gangguan fungsi otak ini mungkin saja mengganggu listrik di otak, lalu muncullah epilepsi.


Klasifikasi Epilepsi

Epilepsi secara garis besar dibagi dalam dua klasifikasi: umum dan parsial. 

Epilepsi umum terbagi tiga, yaitu:

  • Pertama, grand mal (tonik klonik), yakni diawali dengan kehilangan kesadaran, kemudian kejang-kejang, air liur berbusa dan nafas mengorok. 
  • Kedua, petit mal (absence) terjadi gangguan kesadaran secara mendadak. Penyandang diam tanpa reaksi (bengong), kemudian melanjutkan kegiatannya semula. 
  • Ketiga, myoklonik, biasanya pada anak-anak. Terjadi kontraksi singkat dari satu atau sekelompok otot. Mengakibatkan misalnya mendadak jatuh atau melontarkan benda yang sedang dipegang. 

Jenis kedua adalah epilepsi parsial, pada jenis ini serangan terjadi hanya pada sebagian tempat, sementara penyandang tetap dalam keadaan sadar. 

Epilepsi parsial juga terbagi dalam tiga kelompok. 

  • Pertama, sederhana, umumnya berupa kejang-kejang dan kadang berupa kesemutan atau rasa kebal pada satu tempat. 
  • Kedua, kompleks, di sini terjadi penurunan kesadaran. Diawali dengan parsial sederhana, kemudian penyandang seperti bermimpi, daya ingat terganggu, halusinasi, atau kosong pikiran.
  • Ketiga, umum sekunder, yakni perkembangan dari epilepsi parsial (jika tidak bisa diatasi) menjadi epilepsi umum. 

Epilepsi juga dibagi menjadi tiga sesuai dengan fungsi otak sebelah mana yang mengalami aktivitas listrik berlebihan, yakni motorik, sensorik, serta otonom.

  • Motorik, jika serangannya terjadi pada otot, misalnya kejang-kejang. 
  • Sensorik artinya serangan pada sensibilitas atau rasa. Biasanya jika terjadi serangan, penyandang merasa tidak enak. Seperti ada rasa terbakar secara berlebihan. 
  • Sementara otonom misalnya timbul rasa mual yang berlebihan dan sebagainya


Epilepsi Bisa Dikontrol 

Epilepsi sebenarnya merupakan penyakit yang bisa dikontrol seperti halnya diabetes dan darah tinggi. Oleh karena itu, seperti juga penderita diabetes dan darah tinggi, penyandang epilepsi sebenarnya bisa hidup normal tanpa perlu dikucilkan oleh masyarakat. 

Mengontrol epilepsi dilakukan dengan makan obat secara teratur dan mengubah gaya hidup. Penyandang epilepsi sangat disarankan untuk menghindari diri dari kerja yang terlalu berat, terlalu banyak pikiran atau stres, emosi yang tinggi, serta istirahat yang cukup dan makan teratur.

Otak manusia membutuhkan istirahat. Pada penyandang epilepsi, otak yang lelah sangat rentan untuk timbulnya aliran listrik yang berlebihan (di otak). Karena itu tentunya jangan kerja terlalu berat yang menyebabkan otak dan fisiknya lelah.

Kemudian tidur dan makan harus teratur. Karena otak makanannya oksigen dan glukosa, kalau kurang makan, gula yang ke otak juga kurang. Orang yang sehat saja kurang makan pusing. Nah, kalau orang epilepsi dia akan langsung terpicu untuk terjadi listrik yang berlebihan. Jadi kurang tidur, makan tidak teratur, stres, emosi yang tinggi, bisa memicu serangan. Jadi sama dengan diabetes dan hipertensi.


Label: , , ,

0 Comments:

Posting Komentar

<< Home