Secara umum, Indonesia merupakan negara yang sangat rentan terhadap penyakit cacingan. Karena iklim tropis merupakan iklim yang ideal untuk perkembangbiakan cacing.
Penyakit kecacingan masih menjadi masalah utama di Indonesia, terutama di kalangan anak-anak (terutama anak usia sekolah) yang paling rentan terhadap penyakit ini.
Menurut data, delapan dari sepuluh anak Indonesia menderita cacingan. Menurut data lain, penyakit ini menyerang sekitar 40-45% anak usia sekolah.
Penyakit kecacingan disebabkan oleh infeksi cacing pada tubuh manusia. Organisme yang hidup di dalam tubuh makhluk lain disebut sebagai parasit.
Macam-macam Cacing Parasit
Cacing yang hidup sebagai parasit (baik di tubuh manusia maupun hewan) terbagi menjadi tiga kelompok:
Pertama, cacing yang biasanya hidup di rongga usus besar, usus halus, dan di saluran atau kelenjar getah bening serta jaringan di bawah kulit.
Kedua, cacing pipih yang hidup di saluran empedu hati, rongga usus, dan jaringan paru-paru.
Ketiga, keluhan yang hidup di usus halus dan terkadang di usus besar atau kantong empedu.
Dari beberapa lusin spesies cacing parasit, anak-anak paling banyak terkena cacing tambang, cacing kremi, cacing gelang, dan cacing cambuk. Meskipun ada juga cacing pita dan cacing filaria yang menyebabkan penyakit kaki gajah (filariasis), namun sangat jarang.
Sampai saat ini, definisi kecacingan lebih merujuk pada cacing yang ada di dalam usus. Padahal, parasit ini juga ditemukan pada organ lain di luar usus. Cacing di usus juga bisa bergerak/berpindah keluar dari usus.
Cara Cacing Masuk ke Tubuh
Infeksi cacing dapat terjadi pada tubuh manusia melalui beberapa cara, namun utamanya melalui mulut. Dalam hal ini oleh makanan yang terkontaminasi telur cacing atau oleh tangan yang terkontaminasi telur cacing.
Selain itu, ada juga cacing yang masuk ke tubuh manusia melalui kulit yaitu cacing tambang yang kebanyakan masuk melalui kulit kaki.
Sebagian besar cacing ditularkan melalui tanah dan feses, diantaranya cacing cambuk (Trichuris trichiura) yang menyebabkan infeksi trichuriasis atau cacing cambuk, cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang menyebabkan askariasis, dan cacing tambang (Ancylostoma duodenale) yang menyebabkan penyakit ankilostomiasis.
Itu sebabnya penyakit kecacingan lebih banyak menginfeksi anak-anak, terutama yang suka bermain di tanah lembab yang terkontaminasi telur cacing.
Tanah bisa tercemar oleh telur cacing disebabkan oleh kebiasaan buang air besar sembarangan. Kebersihan dan sanitasi yang buruk juga meningkatkan kemungkinan infeksi.
Cacing kremi (Enterobius vermicularis) dan cacing pita (cestoda) termasuk dalam kategori cacing yang tidak menyebar melalui tanah. Cacing kremi yang menyebabkan enterobiasis atau infeksi cacing kremi dapat ditularkan melalui debu yang mengandung telur cacing yang terhirup oleh manusia.
Bisa juga disebabkan oleh larva cacing dari anus yang kembali masuk ke usus. Sementara itu, infeksi cacing pita bisa terjadi karena kita makan daging yang mengandung larva cacing.
Anak-anak Lebih rentan Kecacingan
Pada dasarnya cacing dapat menginfeksi semua kelompok umur. Namun, anak-anak adalah kelompok yang paling sensitif terhadap penyakit ini.
Berbeda dengan orang dewasa, faktor kebersihan anak sering tidak terjaga. Jarang cuci tangan sebelum makan, segala sesuatu dimasukkan anak-anak ke dalam mulut mereka. Kebiasaan ini membuat anak-anak rentan terhadap semua jenis infeksi, termasuk cacing.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa sistem kekebalan tubuh anak-anak lebih lemah daripada orang dewasa. Selain itu, pola makan anak tidak seperti orang dewasa, yang bisa membedakan apa yang boleh dan tidak boleh dimakan.
Mencegah Kecacingan
Pencegahan penyakit cacing pada intinya adalah menjaga kebersihan. Karena kita tahu bahwa infeksi cacing umumnya masuk melalui mulut, maka jangan sampai makanan atau tangan kita tercemar telur-telur cacing.
Infeksi cacing pita melalui makanan (terutama daging) saat ini sudah jauh berkurang. Mengingat hampir semua proses pemotongan hewan sudah dilakukan secara higienis oleh rumah-rumah pemotongan hewan.
Namun demikian, proses memasak makanan dengan benar tetap menjadi faktor penting untuk mencegah infeksi cacing yang menyerupai pita ini. Cacing pita itu bisa ada di daging sapi, babi, bisa juga di ikan. Tapi, kalau sudah dimasak dengan benar, tidak akan menginfeksi.
Selalu menggunakan alas kaki, terutama jika menginjak tanah yang lembab, merupakan salah satu pencegahan terhadap infeksi cacing tambang.
Cacing tambang, merupakan satu-satunya cacing yang bisa masuk ke dalam tubuh manusia melalui kulit, terutama jika terdapat luka pada kulit. Jadi kalau ada luka di kaki, dia masuk melalui situ ke dalam tubuh kita. Apalagi kalau kita menginjak di tempat yang lembab tanpa alas kaki.
Pencegahan penting lainnya adalah mengonsumsi obat cacing secara berkala. Obat cacing sebaiknya dikonsumsi setiap tiga bulan, atau minimal enam bulan.
Rentang ini, katanya, karena menyesuaikan dengan masa inkubasi cacing di dalam tubuh manusia yang umumnya mencapai 30 hingga 75 hari (sejak terinfeksi hingga menjadi cacing dewasa).
Misalnya yang paling sering yakni cacing gelang. Kalau kita sudah tertelan telur cacing itu, masuk ke dalam usus, di dalam usus nanti dia menembus dinding usus masuk ke dalam darah. Di dalam darah dia beredar, masuk ke paru-paru, dia masuk ke dalam dahak, kita batukkan, kita telan lagi. Jadi dua kali masuk ke dalam usus. Nanti dia keluar lagi, masuk ke usus halus. Nah, di sana dia berkembang biak. Ini waktunya ini bisa 30 hari sampai 75 hari.
Kesimpulan
Kecacingan banyak menginfeksi anak-anak, karena anak-anak senang bermain di tempat kotor, atau belum terbiasa disiplin dalam menjalankan gaya hidup bersih. Mencegah kecacingan sebenarnya sangat mudah. Hanya tinggal disiplin menjaga kebersihan, dan selalu mengolah makanan dengan benar.
Label: Nakita, Pencegahan, Penyakit