16.5.20

Tetap Cantik Pasca Menopause

menua dengan cantik

DOKTERINE.INFO - Wanita antara usia 45 hingga 55 tahun akan mengalami menopause atau keadaan dimana daur haid berhenti. Hal itu dialami secara bertahap. 

Dalam suatu kesempatan, masa sekitar berhentinya daur haid disebut masa perimenopause yang berlangsung sekitar 0,5 hingga 3 tahun. 

Tapi perlu diingat, menopause bukanlah akhir dari segalanya, akhir dari kehidupan. Ini proses alamiah pada wanita.

Perubahan karena berhentinya hormon kewanitaan dapat diatasi dengan pengobatan dan psikoterapi. Persiapan diri, juga dukungan dari pasangan diperlukan. Berpikirlah positif, mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa  sangat membantu keindahan kehidupan masa tua. 

Sel telur yang tersimpan dalam indung telur, sudah terbentuk sejak masa di dalam rahim. Pada usia kehamilan 30 minggu jumlah sel telur mencapai sekitar 6 juta. Sebagian dari mereka akan rusak (ber-degenerasi) sehingga ketika bayi lahir jumlah sel telur menjadi 2 juta. Sel ini akan berkurang lagi menjadi kurang lebih 300.000 saat pubertas dan akhirnya hanya 8.000 yang mampu bertahan hidup dan menjadi matang. 

Sebenarnya saat menopause masih ada beberapa sel telur, tetapi sensitivitasnya terhadap hormon hilang. Seperti saat pubertas dan menarche (mulai mens), ketika menopause, terjadi gangguan karena perubahan hormon terhadap tubuh. 

Bedanya, pada pubertas perubahan itu dikarenakan mulai timbulnya hormon sedangkan saat menopause justru akibat hilangnya hormon.

Dalam hal ini ada kesamaan gejala yang biasa timbul. Misalnya, gangguan daur haid. Daur haid tidak teratur karena hormon tidak stabil. 

Juga ada gangguan psikologis yang disebabkan hormon abnormal. Bentuk gangguan misalnya perasaan mudah tersinggung, bahkan terkadang sampai depresi, gelisah, kurang nyaman, kurang pede, cepat marah, menangis. 

Pada pubertas ada perasaan disepelekan, sedangkan ketika menopause ada perasaan tak berguna dan ditinggalkan, perasaan kurang cantik atau kurang menarik lagi. 

Ada gangguan aliran darah dan jantung. Pada menopause ada rasa panas di muka, leher, terkadang hingga demam yang timbul dan hilang tiba-tiba. Jantung sering berdebar, tubuh lemas, vagina kering atau panas, berkeringat, sukar tidur. 

Pada wanita menopause, gangguan jantung atau penyempitan/gagal jantung meningkat keumbang wanita masa reproduksi.

Gangguan otot dan tulang pun biasa ters jadi, juga gangguan gairah seksual (kadang tinggi/rendah) serta gangguan pada alat kelamin. 

Kurang dari tiga dari sepuluh wanita akan mengalami seluruh gangguan tersebut. Sebagian wanita tidak akan mengalaminya. 

Maka itu jangan risau, tapi patut dimengerti. Namun jika gangguan cukup banyak dan mengganggu, sebaiknya yang bersangkutan menghubungi dokter kandungan atau psikolog.

Seksualitas pasca menopause 

Satu mitos menyesatkan berkaitan dengan menopause adalah hilangnya kemampuan dan gairah seksual setelah menopause.

Hal ini sama sekali tidak benar. Bila nenek kakek pisah kamar karena sang nenek berhenti haid, itu salah, karena itu termasuk efek samping dari menopause yang dapat diatasi dengan pengobatan.

Kemampuan reproduksi memang hilang karena hilangnya menstruasi, tetapi kemampuan seksual bisa dipertahankan sampai lama. 

Sebagai gambaran, suatu penelitian di AS tentang seksualitas pada wanita lansia, 60 persen tidak berubah, 20 persen menurun dan 20 persen justru mengalami peningkatan.

Beberapa wanita bahkan baru menikmati seks pada usia tua, karena adanya pengenalan lebih baik terhadap pasangan, perasan cinta kasih lebih mendalam, dll.

Potensi seksual wanita bertahan lebih lama daripada pria, sehingga penurunannya lebih banyak disebabkan kegagalan pasangannya. 

Namun hal itu dapat ditingkatkan kembali bila pasangan mau berusaha. Penelitian di AS memperlihatkan 70 persen wanita yang masih aktif seksual pada usia 60 tahun akan berlanjut pada usia 70 hingga 80 tahun.

Karena itulah, demi menghindari kepercayaan pada mitos-mitos seputar menopause, para wanita hendaknya memiliki pengertian tentang seluruh proses menopause. 

Jika gejala-gejala menopause terjadi, wanita tidak panik dan bisa segera menghubungi dokter maupun psikolog.

Belajar untuk berpikiran positif terhadap segala hal akan membantu mengatasi stres dan depresi, belajar percaya pada pasangan hidup, jangan membiasakan, diri berkeluh-kesah, mendekatkan dan berserah diri kepada Sang Pencipta, membuat kita lebih bebas, tidak tertekan.

Ingat-ingatlah, menstruasi tidak perlu dipertahankan, tetapi dampak menopause yang harus dikendalikan. Proses regenerasi kulit yang menyebabkan kulit keriput dapat diatasi dengan penggunaan bahan kosmetik yang tepat, vitamin E dan olahraga teratur.

Tetaplah cantik dan bergairah di masa menopause, itu akan lebih baik.


Label: , ,

2.5.20

Awas Keracunan Makanan! Cara Mengolah Makanan Agar Terhindar dari Sakit

Cara mengolah makanan agar tidak sakit

Keracunan bukan hanya diakibatkan karena menelan zat kimia, namun bisa juga berasal dari makanan.Jangan berpikir bahwa cara hidup modern memastikan orang bebas dari bahaya keracunan makanan.

Pola makanan cepat saji dan preferensi untuk makan di luar dari warung pinggir jalan hingga restoran cepat saji meningkatkan kemungkinan paparan racun. Bahkan risiko keracunan bisa datang dari dapur Anda sendiri.

Meski terlihat sepele, keracunan bisa menimbulkan berbagai bahaya, mulai dari gangguan ringan seperti pusing, muntah, dan sakit perut, hingga yang lebih parah dan fatal, bisa menyebabkan kematian. 

Bagaimana keracunan makanan bisa terjadi?

Bakteri toksik tumbuh dengan sempurna pada media dan kondisi yang cocok untuk pertumbuhannya. Hal ini terutama berlaku untuk makanan yang memiliki suhu rendah dan melebihi batas waktu penyimpanan.

Makanan dengan risiko bakteri paling tinggi adalah daging sapi, unggas segar, ikan segar, telur, produk daging olahan, dan produk susu. Produk-produk tersebut mudah rusak karena dikonsumsi dalam waktu terbatas.

Jika daging berubah warna dan menunjukkan tanda-tanda memar, jangan dimakan karena itu pertanda dagingnya sudah mulai mengalami pembusukan.

Bagaimana makanan bisa terkontaminasi bakteri?

Penanganan dan penyimpanan makanan adalah hal yang paling penting untuk dipertimbangkan. Penanganan yang buruk dan kebersihan yang buruk (lingkungan dan peralatan) dapat memicu pertumbuhan bakteri.

Pembersihan makanan yang tidak memadai dan penyimpanan yang tidak tepat juga harus dipertimbangkan. 

Bagaimana cara mencegah keracunan makanan? 

Ada banyak penyebab keracunan makanan, dan ada banyak cara untuk mencegahnya. Yang harus Anda lakukan adalah mencegah makanan terkontaminasi sebelum bakteri memiliki kesempatan untuk tumbuh.

Misalnya:

  • Jika Anda akan makan di luar, carilah tempat yang makanan, tempat, dan peralatan makannya benar-benar bersih.
  • Jangan ragu untuk memastikan sendok dan garpu Anda bersih. 
  • Jangan lupa untuk membersihkan tangan saat mulai menikmati makanan. 
  • Saat mengolah makanan di rumah, pastikan tangan Anda bersih saat mulai memasak.
  • Udara bebas juga mengandung bakteri, jadi cucilah semua peralatan yang Anda gunakan. Pisau, talenan, dan kain lap merupakan media yang mudah terjangkit bakteri, sehingga harus dicuci hingga bersih.
  • Selain itu, untuk mengurangi risiko kontaminasi, peralatan makan sebaiknya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan dan tidak meninggalkan bekas setelah dibilas.
  • Jika Anda menyimpan makanan di lemari es, letakkan makanan mentah di bagian bawah makanan matang. 
  • Untuk makanan dengan bau menyengat atau makanan yang mudah busuk, bungkus terlebih dahulu dengan rapat dan bagi menjadi porsi kecil.
  • Simpan produk daging mentah dan olahan di dalam freezer. 

Kesimpulan

Kesehatan dimulai dengan makan. Oleh karena itu, Anda harus selalu memperhatikan semua aspek. Dengan selalu memperhatikan apa yang Anda makan setiap saat, Anda dapat mencegah berbagai penyakit saluran cerna dan terhindar dari risiko keracunan makanan.


Foto: pixabay

Label: , ,