11.1.23

Fakta dan Mitos Tentang Epilepsi yang Perlu Anda Ketahui

dokterine.info -- Cetusan listrik yang berlebihan di otak penderita epilepsi terjadi karena gangguan atau aktivitas berlebihan dari sekelompok neuron. Bukan karena kesambet, kesurupan atau kena kutukan.

Epilepsi Bukan Penyakit Turunan
Sumber foto: pixabay


Epilepsi Bukan Penyakit Turunan

Epilepsi (atau dulu disebut ayan atau sawan), oleh kebanyakan masyarakat awam masih saja dilekatkan dengan stigma yang sangat tidak mengenakkan. Epilepsi, kata mereka, merupakan penyakit kutukan, disambit setan, atau gila. Sementara sebagian lagi mengatakan epilepsi bisa menular sehingga penyandang epilepsi banyak yang dikucilkan, atau bahkan dipasung oleh keluarga mereka. 

Mengacu dari data WHO, ada 50 juta penderita epilepsi di seluruh dunia. Sekitar 80% penderitanya berasal dari negara miskin dan berkembang. Proporsi populasi penderita epilepsi aktif adalah 4 sampai 10 orang per 1000 populasi. Dengan demikian angka prevalensinya 0,4-1,0% dari jumlah populasi.

Jumlah penyandang epilepsi di Indonesia tidak diketahui secara pasti mengingat masih banyak penyandang epilepsi yang dikurung atau disembunyikan oleh keluarga mereka. Jika mengacu pada angka prevalensi penderita epilepsi dari WHO, maka jika saat ini penduduk Indonesia ada sebanyak 273 juta, maka jumlah penderita epilepsi di Indonesia ada kurang lebih antara 1-2,7 juta penderita.


Bagaimana Epilepsi Bisa terjadi

Otak manusia tidak berbeda dengan sebuah komputer. Di dalam komputer, berbagai komponen saling berhubungan melalui impuls listrik yang sangat kecil. Begitu pula otak manusia, sel-sel otak saling berhubungan satu sama lain.

Melalui impuls listrik yang sangat kecil, manusia bisa bergerak, berbicara, dan melakukan berbagai aktivitas lain karena adanya fungsi otak yang digerakkan oleh suatu aliran listrik di dalam otak. 

Pada penyandang epilepsi, terjadi cetusan listrik yang berlebihan di otak. Hal ini terjadi karena adanya gangguan atau aktivitas berlebihan dari sekelompok neuron (sel-sel otak). Apa yang membuat sel-sel itu terlalu aktif sebenarnya hingga kini belum diketahui secara pasti. 

Cetusan inilah yang menyebabkan terjadinya serangan pada penyandang epilepsi. Sehingga dia tidak bisa mengontrol gerakan. Jadi gerakan kita terlihat seperti gerakan orang yang kejang, sebenarnya itu aktivitas otot yang berlebihan. Begitu aliran listrik itu habis dan kembali ke normal, serangan akan otomatis berhenti.


Faktor yang Jadi Penyebab Munculnya Epilepsi

Terganggunya sel-sel otak pada penyandang epilepsi bisa disebabkan banyak hal. Pertama, tidak tertutup kemungkinan seseorang sudah mempunyai tendensi untuk terjadinya cetusan listrik berlebihan di otak sejak ia dilahirkan. Tendensi ini bisa menjadi semakin kuat dalam masa pertumbuhan.

Faktor genetik juga mempunyai andil (Meski epilepsi bukan penyakit keturunan), namun demikian sangat kecil.  Faktor genetik ini hubungannya sangat kompleks dan berkaitan dengan bermacam-macam kelainan, misalnya ada gangguan dengan pada metabolisme, dan lain sebagainya.

Epilepsi bisa terjadi pada seseorang yang lahir dengan down syndrome. Orang dengan down syndrome  otaknya tidak berkembang dengan baik sejak lahir. Sehingga fungsi dari otak itu tidak bisa betul-betul bagus.

Trauma lahir juga bisa berujung pada epilepsi. Misal, apakah pada saat dia lahir terjepit atau tidak, pakai tang atau tidak, pakai vakum atau tidak, kelahiran seperti itu mungkin saja menyebabkan perdarahan di otak ketika masih bayi, tapi tidak terdeteksi.

Selain itu, epilepsi bisa merupakan gejala sisa dari kasus infeksi atau radang otak pada masa pertumbuhan. Ini juga bisa menyebabkan gejala sisanya berupa gangguan dari fungsi otak, yang berarti juga bisa mengganggu fungsi listrik di otak.

Kecelakaan, geger otak, bahkan stroke, juga bisa menimbulkan gejala sisa berupa epilepsi. Pendek kata, segala sesuatu yang bisa menyebabkan otak itu rusak, berarti berpotensi mengganggu fungsi otak. Gangguan fungsi otak ini mungkin saja mengganggu listrik di otak, lalu muncullah epilepsi.


Klasifikasi Epilepsi

Epilepsi secara garis besar dibagi dalam dua klasifikasi: umum dan parsial. 

Epilepsi umum terbagi tiga, yaitu:

  • Pertama, grand mal (tonik klonik), yakni diawali dengan kehilangan kesadaran, kemudian kejang-kejang, air liur berbusa dan nafas mengorok. 
  • Kedua, petit mal (absence) terjadi gangguan kesadaran secara mendadak. Penyandang diam tanpa reaksi (bengong), kemudian melanjutkan kegiatannya semula. 
  • Ketiga, myoklonik, biasanya pada anak-anak. Terjadi kontraksi singkat dari satu atau sekelompok otot. Mengakibatkan misalnya mendadak jatuh atau melontarkan benda yang sedang dipegang. 

Jenis kedua adalah epilepsi parsial, pada jenis ini serangan terjadi hanya pada sebagian tempat, sementara penyandang tetap dalam keadaan sadar. 

Epilepsi parsial juga terbagi dalam tiga kelompok. 

  • Pertama, sederhana, umumnya berupa kejang-kejang dan kadang berupa kesemutan atau rasa kebal pada satu tempat. 
  • Kedua, kompleks, di sini terjadi penurunan kesadaran. Diawali dengan parsial sederhana, kemudian penyandang seperti bermimpi, daya ingat terganggu, halusinasi, atau kosong pikiran.
  • Ketiga, umum sekunder, yakni perkembangan dari epilepsi parsial (jika tidak bisa diatasi) menjadi epilepsi umum. 

Epilepsi juga dibagi menjadi tiga sesuai dengan fungsi otak sebelah mana yang mengalami aktivitas listrik berlebihan, yakni motorik, sensorik, serta otonom.

  • Motorik, jika serangannya terjadi pada otot, misalnya kejang-kejang. 
  • Sensorik artinya serangan pada sensibilitas atau rasa. Biasanya jika terjadi serangan, penyandang merasa tidak enak. Seperti ada rasa terbakar secara berlebihan. 
  • Sementara otonom misalnya timbul rasa mual yang berlebihan dan sebagainya


Epilepsi Bisa Dikontrol 

Epilepsi sebenarnya merupakan penyakit yang bisa dikontrol seperti halnya diabetes dan darah tinggi. Oleh karena itu, seperti juga penderita diabetes dan darah tinggi, penyandang epilepsi sebenarnya bisa hidup normal tanpa perlu dikucilkan oleh masyarakat. 

Mengontrol epilepsi dilakukan dengan makan obat secara teratur dan mengubah gaya hidup. Penyandang epilepsi sangat disarankan untuk menghindari diri dari kerja yang terlalu berat, terlalu banyak pikiran atau stres, emosi yang tinggi, serta istirahat yang cukup dan makan teratur.

Otak manusia membutuhkan istirahat. Pada penyandang epilepsi, otak yang lelah sangat rentan untuk timbulnya aliran listrik yang berlebihan (di otak). Karena itu tentunya jangan kerja terlalu berat yang menyebabkan otak dan fisiknya lelah.

Kemudian tidur dan makan harus teratur. Karena otak makanannya oksigen dan glukosa, kalau kurang makan, gula yang ke otak juga kurang. Orang yang sehat saja kurang makan pusing. Nah, kalau orang epilepsi dia akan langsung terpicu untuk terjadi listrik yang berlebihan. Jadi kurang tidur, makan tidak teratur, stres, emosi yang tinggi, bisa memicu serangan. Jadi sama dengan diabetes dan hipertensi.


Label: , , ,

3.1.23

Konsumsi Serat Agar Makin Sehat

DOKTERINE.INFO - Serat, bukan sesuatu yang asing lagi bagi masyarakat kita dewasa ini. Rasa-rasanya, sebagian besar orang sudah tahu betapa bermanfaatnya serat bagi kesehatan. Serat misalnya diyakini mampu memperlancar buang air besar. Selain itu, serat pun-memudahkan proses penyerapan kolesterol dan kadar gula darah. 

Serat pangan baik untuk kesehatan


Walau bermanfaat, bukan berarti Anda harus mengonsumsi serat sebanyak banyaknya. Konsumsilah serat secara proporsional (seimbang), jangan kurang  atau berlebih.

Mengapa begitu? Asupan serat yang sangat minim, bisa merangsang meningkatnya kolesterol dalam tubuh. Sebab, serat yang bersifat larut mampu mengikat kolesterol dan mengeluarkannya dari dalam tubuh.

Selain itu, asupan serat yang kurang juga akan mempersulit buang air besar. Akibatnya, orang yang asupan seratnya kurang cenderung mengejan ketika buang air besar. Dan itu berpotensi menimbulkan ambeien serta perlukaan di sekitar anus sehingga mengeluarkan darah.

Sebaliknya, jika asupan serat ke dalam tubuh berlebihan juga akan menimbulkan akibat buruk seperti kembung, mual, serta diare. 

Selain itu, konsumsi serat yang terlalu banyak juga bisa menimbulkan kejang perut karena gerak peristaltik usus tak mampu mendorong ke bawah. 


Lebih baik yang alami

Untuk memenuhi kebutuhan serat, kini tersedia suplemen serat dengan berbagai macam merek di pasaran. Suplemen serat sebaiknya hanya dijadikan alternatif saja. 

Idealnya, kebutuhan serat untuk tubuh dipenuhi secara alami yaitu dengan mengonsumsi buah atau sayuran. 

Dengan memakan buah dan sayur, bukan hanya kebutuhan serat saja yang terpenuhi, tapi kebutuhan akan vitamin dan mineral pun tercukupi.


Bagaimana dengan anal anak, apakah mereka juga membutuhkan serat? 

Tentu saja anak-anak sangat butuh serat untuk membantu tumbuh kembangnya. Seperti halnya pada orang dewasa, konsumsi serat anak-anak sebaiknya juga proporsional. 

Ketika seorang anak kekurangan serat, orang tua tidak dianjurkan untuk memberinya suplemen serat. Sebab, dosis yang terdapat dalam produk suplemen serat umumnya ditujukan untuk orang dewasa dan terlalu tinggi. 

Hal lain yang harus dijadikan perhatian adalah terjadinya perubahan pola hidup, termasuk pola makan kita. Saat ini masyarakat semakin gandrung pada makanan cepat saji yang sarat akan kandungan lemak. Ini akan mendatangkan pengaruh buruk misalnya memicu penyakit degeneratif seperti jantung, diabetes, kolesterol, dan lainnya.


Label: ,

2.1.23

Pola Makan Salah Undang Penyakit Degeneratif

Pola Makan Salah Undang Penyakit Degeneratif

DOKTERINE.INFO - Hati-hati dengan apa yang Anda makan. Peringatan ini berlaku untuk yang terbiasa mengonsumsi makanan berlemak tinggi, tapi rendah serat. 

Makanan rendah serat merupakan musuh utama tubuh dan berpotensi mengundang berbagai penyakit degeneratif. 

Sebut saja misalnya stroke, kegemukan (obesitas), diabetes mellitus, kanker, tekanan darah tinggi (hipertensi), juga osteoporosis. 

Penyebab Munculnya Penyakit Degeneratif

Perubahan pola makan, terutama di kota-kota besar mengakibatkan tingginya penderita penyakit degeneratif. 

Penyakit degeneratif adalah penyakit yang saling berinteraksi satu sama lain sehingga bisa berdampak terhadap kesehatan secara keseluruhan. 

Pola makan yang sangat mempengaruhi terjadinya penyakit degeneratif adalah faktor lemak buruk yang berasal dari  junk food. Banyak orang muda yang memiliki pola makan tidak sehat.

Mereka yang merasa memiliki waktu serba sedikit lebih memilih makanan cepat saji sebagai menu utama. Tak heran jika semakin hari semakin banyak terjadi peningkatan penderita penyakit degeneratif. Tidak hanya pada usia lanjut, tapi juga pada usia yang lebih muda yakni di bawah usia 45 tahun. 

Penyakit degeneratif yang jumlah penderitanya mengalami kenaikan secara signifikan adalah penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah).

Penyakit ini umumnya disebabkan oleh penyumbatan (arteriosklerosis) di pembuluh darah koroner, pembuluh darah otak atau pembuluh darah perifer. 

Arteriosklerosis merupakan sindrom yang disebabkan oleh berbagai faktor risiko.

Faktor risiko yang dimaksud di antaranya adalah hipertensi, merokok, diabetes mellitus, kurang olahraga, dan stres. 

Faktor risiko jenis ini dapat diubah. Ini mengingat faktor tersebut lebih dipengaruhi oleh gaya hidup dan pola makan. 

Pola Makan Orang Indonesia

Sebenarnya, pola makan khas masyarakat Indonesia sangat sehat. Sebagai sumber energi, masyarakat kita mengonsumsi beras, jagung, umbi-umbian, dan sagu. 

Selain itu, penduduk Indonesia juga mengonsumsi banyak sayuran, buah-buahan, selain lauk pauk sebagai sumber protein. Tapi westernisasi makanan mengubah pola makan yang sebenarnya sehat itu, menjadi kurang sehat. 

Akibat pengaruh pola makan Barat, kini masyarakat Indonesia pun menggemari makanan-makanan cepat saji ala barat yang rendah kandungan serat dan tinggi kadar gulanya. Sementara kandungan lemak pada makanan cepat saji itu juga sangat tinggi.

Lebih baik mencegah 

Bagaimana pun mencegah penyakit lebih baik daripada mengobati. Ini Juga berlaku untuk penyakit-penyakit degeneratif. 

Tapi bagaimana caranya? 

Secara umum pencegahan yang bisa dilakukan adalah berolahraga secara teratur, tidak mengonsumsi alkohol, dan tidak merokok. 

Usahakan juga untuk tidur nyenyak selama minimal delapan jam serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan berkala.

Tidak kalah pentingnya adalah pencegahan yang terkait dengan pola makan seperti membatasi pemakaian gula dan makan minum yang terlalu manis. 

Demikian juga dengan pemakaian garam secara berlebihan. Juga perlunya membatasi makanan yang mengandung purin misalnya jeroan, kaldu, emping, dan tape. 

Selain itu, membudayakan konsumsi sayur sayuran sangat membantu untuk meningkatkan kesehatan. 

Pada penyakit jantung dan pembuluh darah misalnya, pencegahan yang terbaik adalah dengan menurunkan konsumsi lemak dan meningkatkan asupan serat.

Benarkah pola makan vegan menyehatkan?

Pada saat yang sama, muncul juga pola makan lain yang diyakini menyehatkan yaitu pola makan tanpa daging. Artinya, penganut pola makan ini hanya mengonsumsi sumber pangan nabati. 

Inilah yang dikenal sebagai pola makan vegan dan vegetarian. Para vegetarian yang masih menyertakan telur dan atau susu, dan makanan olahan dari susu (misalnya keju) pada diet harian mereka. Sedangkan vegan sepenuhnya tidak makan semua produk hewan dan turunannya.

Dalam beberapa dekade terakhir, gaya hidup semacam ini kian diminati. Kenyataan bahwa lemak berisiko mengundang penyakit degeneratif, membuat sejumlah kalangan memilih untuk menjadi vegan atau vegetarian. 

Banyak pendapat soal ini. Tapi setidaknya hasil penelitian menunjukkan, risiko laki-laki vegetarian usia 45-64 tahun terkena penyakit  jantung turun sampai 60 persen. Prevalensi kematian pada kelompok vegetarian memang lebih kecil dibandingkan yang masih makan daging.

Di Indonesia sendiri gaya hidup vegetarian mulai diminati. Tidak hanya oleh mereka yang memiliki keyakinan tertentu, melainkan juga oleh masyarakat umum. Tapi apa pun gaya hidup Anda, Pola makan sehat dan seimbang adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar.


Label: ,

1.1.23

Mengapa Semakin Banyak Orang Kelelahan? Apa dan Bagaimana Cara Menanganinya

Di zaman yang semakin serba cepat ini, kelelahan (fatigue) sepertinya sudah menjadi masalah setiap orang. Terlalu banyak bekerja, hingga sampai di titik jenuh, Anda sudah tidak punya lagi energi untuk melakukan apa pun.

Yang terjadi kemudian, rasa lelah itu tak kunjung hilang dan malah memburuk dari waktu ke waktu, energi rasanya makin terkuras, konsentrasi dan motivasi lenyap. Kualitas hidup makin menurun dan kesehatan mental Anda pun jadi terganggu.

Inginnya sih, kita tak pernah kehabisan energi agar bisa terus-menerus melakukan ini itu. Sayangnya, energi bukanlah hal konstan dalam hidup kita. Energi mengalami pasang surut dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan berbagai musim, serta suasana, tergantung pada kondisi individu. 

Merasa lelah adalah hal yang alami, karena tubuh manusia ada batasannya. Normalnya, setelah beristirahat yang cukup, rasa lelah itu akan sirna dan tubuh kembali bugar.

Kelelahan menjadi tidak normal ketika: terasa tiada hentinya, durasinya terlalu lama, bahkan tidak bisa hilang walau sudah istirahat atau tidur yang panjang. Jika hal ini terjadi maka ini sudah bukan lagi lelah biasa. Anda mungkin saja sedang sakit.


Hal-hal biasa namun bisa menyebabkan kelelahan

Sebelum berkesimpulan bahwa rasa lemas Anda disebabkan oleh penyakit, ada baiknya menelusuri dahulu bagaimana keseharian kita. Banyak kegiatan yang dianggap rutin namun justru menjadi sumber penyebab rasa capek.

Berikut ini, sejumlah penyebab kelelahan dan bagaimana mengakalinya agar Anda tetap bisa menikmati hidup. 

Kerja tak kenal istirahat 

Terus-menerus mengerjakan sesuatu tanpa istirahat membuat Anda lupa diri. Segala rutinitas yang berkisar dari kegiatan itu ke itu sepanjang waktu akan membuat tubuh bosan dan segera saja menjadi lelah. 

Kegiatan rutin 24 jam sehari dalam sepekan penuh dapat menguras emosi dan fisik Anda. Otak juga perlu istirahat. Anda butuh sedikit mind break.

Selingi masa kerja Anda yang berat dengan humor dan bersantai tanpa perlu membuang banyak waktu. Sempatkan mendengarkan musik atau main game ringan. Buat rutinitas Anda lebih berwarna. 

Kurang terpapar matahari 

Saat intensitas sinar matahari berkurang, tubuh sebenarnya akan disetel untuk istirahat dan tidur. Perasaan depresi, tertekan, marah, terganggu, dan gusar, meningkat saat udara dingin. 

Berjalan-jalan 10 menit sehari di bawah sinar matahari saat Anda merasa lelah akan membuat Anda terjaga. 

Cahaya matahari mengandung tenaga layaknya kafein yang membuat anak melek. Jika sukar mendapatkan cahaya matahari di musim hujan, duduklah beberapa menit di ruangan berlimpah cahaya lampu. 

Jarang menarik napas panjang 

Besarnya kadar karbon dioksida dalam darah akan membuat Anda cepat lelah. Kurangnya pasokan oksigen, juga akan memacu detak jantung dan tekanan darah. Inilah yang membuat tubuh Anda tersiksa dan kelelahan. 

Akali dengan bernapas lewat diafragma selama beberapa kali sehari. 

Caranya, tarik napas lewat perut (bukan tenggorokan) dan lepaskan perlahan. Letakkan tangan di perut dan fokuskan perhatian pada gerakan perut dan dada Anda. Secara otomatis, gerakan ini akan mengembangkan paru-paru dan membuatnya mampu menghirup udara lebih banyak lagi. 

Duduk terlalu lama 

Duduk terlalu lama dalam satu posisi bisa menyedot energi. Saat duduk, tubuh Anda dipaksa untuk kaku dan menjadi cepat lelah. 

Menonton televisi dan duduk di depan komputer terlalu lama juga mengakibatkan kelelahan karena mata jarang berkedip, sehingga mengakibatkan mata perih dan lelah. 

Tinggalkan kursi dan komputer Anda dan berjalanlah atau lakukan peregangan. Duduk terlalu lama juga membuat Anda lupa ke belakang. Ini tak baik untuk ginjal Anda. 

Jika tak ingin meninggalkan kursi, alihkan pandangan Anda pada sesuatu yang jauh setiap setengah jam.

Kurang tidur 

Tubuh Anda memiliki jam biologis yang bergerak teratur. Jika jadwal tidur Anda berantakan, jam biologis ini dengan sendirinya ikut terganggu. Kurang tidur (dan menggantinya di hari berikutnya) akan membuat tubuh tak ubahnya orang yang menderita jetlag. 

Meskipun Anda tidur cukup waktu sebagai pengganti jam tidur yang hilang, Anda tetap akan merasa lelah saat terbangun. Untuk menghindarinya, cobalah mengatur waktu tidur dan bangun, disiplin dengan jadwal tersebut. 

Jika Anda ingin tidur lebih lama, majukan jam tidur Anda. Bukan memundurkan waktu bangun Anda. Hal ini akan mengurangi rasa lelah yang diakibatkan bangun terlambat. 

Dehidrasi ringan

Tanpa disadari, sebagian besar kita menderita dehidrasi tingkat rendah. Saat kehausan orang sudah kehilangan dua hingga tiga persen cairan tubuh. 

Meski rendah kadarnya, dehidrasi karena kehausan bisa membuat Anda lelah dan akibatnya tekanan darah akan turun drastis. Pasokan darah ke otak juga akan berkurang dan mengakibatkan jantung Anda bekerja lebih keras. 

Untuk mengakalinya mudah saja. Banyak minum air dan dampingi makan Anda dengan minum air putih, bukan teh, kopi, apalagi minuman ringan berkarbonasi.

Memang terdengar klise, namun minum minimal delapan gelas akan menolong Anda. Tambahkan asupan zat cair dengan makan sayur, buah segar, dan makanan berkuah (seperti sup) dalam daftar menu Anda. 

Sinar lampu terlalu terang di malam hari 

Cahaya lampu yang terlalu terang di malam hari dapat menipu otak dan membuatnya sukar membedakan siang dan malam. Lampu yang terlalu terang dapat mengacaukan jam biologis dan membuat Anda tetap ingin terjaga sepanjang waktu.

Lampu terlalu terang saat Anda tidur juga akan membuat pengeluaran melatonin, hormon pemacu kantuk, menjadi lambat bekerja. Akibatnya, Anda akan terjaga lebih lama dan tubuh menjadi lelah. 

Pakailah lampu tidur beberapa saat sebelum Anda benar-benar berangkat tidur untuk menyesuaikan tubuh dan otak dengan suasana lingkungan. 

Sarapan dengan kopi dan vitamin 

Banyak orang sarapan dengan kopi dan vitamin, dengan alasan agar tetap bugar sepanjang hari. Padahal, vitamin bukanlah sumber energi. 

Tidak sarapan malah akan merusak hari Anda karena tak ada kalori yang masuk. Akibatnya, metabolisme akan rendah dan fungsi lainnya juga melambat. Anda akan cepat lelah dan merasa mengantuk.

Tak lapar di pagi hari? Pastilah tadi malam Anda makan terlalu banyak. Mulailah sarapan bergizi dan sehat. Kombinasikan asupan protein dan karbohidrat sebagai sumber energi. Pilihlah bahan makanan dari gandum, biji-bijian, telur, dan produk susu. Protein, yang bertahan lama di dalam perut, akan memberikan cadangan tenaga untuk beraktivitas. 

Olahraga berlebihan

Karena ingin cepat-cepat langsing, seseorang memaksakan diri berolah raga terlalu keras. Hingga badannya sakit-sakit dan tak sanggup bangun lagi.

Tubuh perlu waktu untuk memulihkan diri usai berolahraga, untuk mengembalikan simpanan energi dan memperbaiki otot. 

Untuk menentukan tubuh Anda sudah terlalu lelah akibat latihan, ukurlah denyut nadi Anda dengan menempelkan jari di pergelangan tangan. Jika pagi setelah latihan detaknya masih terlalu cepat, hari ini Anda harus istirahat dari olahraga. 

Berolahraga dengan waktu selang sehari, juga bisa jadi pilihan yang baik. Namun, jangan istirahat lebih dari dua hari, karena bisa membuat Anda jadi malas melanjutkannya. 

Badan terlalu berat 

Berat badan berlebih akan menyebabkan tubuh mengeluarkan banyak energi untuk bergerak. Semakin berat, semakin banyak energi dipakai, semakin mudah kelelahan. Cara untuk menanggulangi hal ini, Anda harus mengurangi berat badan.

Gaya hidup bermasalah

Saat Anda terus-menerus merasa lelah, gaya hidup Anda pasti bermasalah. Contohnya kebiasaan merokok dan minum alkohol. Untuk mengatasinya tidak ada cara lain selain menghentikan kebiasaan buruk tersebut.


Perempuan Cepat Lelah

Kelelahan (Fatigue) adalah keluhan yang bisa dialami baik laki-laki maupun perempuan. Namun, pasien perempuan yang mengeluhkan kelelahan lebih banyak dari pasien laki-laki.

Mengapa bisa demikian?

Karena perempuan punya fungsi tubuh lebih spesial dari laki-laki. Perempuan mempunyai tahapan hidup yang lebih rumit, diantaranya mengalami haid, hamil, lalu menyusui sampai akhirnya menopause.

Aktivitas hormon dalam tubuh perempuan berpengaruh pada tingkat energi mereka. Misalnya ketika haid, banyak perempuan yang mengeluh lelah dan cepat marah.

Kelelahan pada perempuan jangan disepelekan. Utamanya jenis kelelahan kronis yang sudah berlangsung lama. 

Itu semacam jeritan minta tolong dari tubuh Anda. Jika Anda tak memperhatikan keluhan ini dan tidak mengetahui penyebabnya, mungkin saja Anda sedang menderita sakit.

Beberapa penyakit berhubungan erat dengan kelelahan kronis. Diantaranya seperti: anemia, fibromyalgia, gangguan tiroid, kelainan jantung, kanker atau bahkan juga depresi. 

Untuk memastikan apakah kelelahan Anda disebabkan oleh penyakit, Anda harus memeriksakan diri Anda ke dokter.


Label: , , , ,