22.3.22

Swamedikasi - Boleh, Tapi Patuhi Rambu-rambunya

DOKTERINE.INFO - Untuk mengatasi gangguan kesehatan ringan boleh saja membeli obat tanpa resep dokter. Tapi ingat, ada rambu-rambu yang harus dipatuhi. Apa saja itu? 

Ada dua tipe orang ketika dirinya mengalami gejala flu.

Yang pertama, ia akan membeli obat flu yang banyak dijual di warung-warung atau toko obat. Mudah, murah, cepat. Yang terpenting bisa cepat menghilangkan sakit kepala, meredakan hidung tersumbat, dan sedikit meredakan batuk.

Tipe yang ke dua, orang yang melawan flu hanya dengan istirahat, makan yang cukup dan bergizi. Bila ada demam, barulah minum obat yang paling ringan, parasetamol misalnya. Sisanya ia perbanyak tidur dan minum air putih.


Swamedikasi - Boleh, Tapi Patuhi Rambu-rambunya

Apa yang dilakukan kedua jenis orang itu untuk melawan gejala penyakit tanpa pergi ke dokter disebut dengan swamedikasi.

Swamedikasi adalah upaya untuk menolong diri sendiri dalam mengatasi masalah atau gangguan kesehatan ringan, misalnya batuk pilek, demam, sakit kepala, maag, gatal-gatal, iritasi ringan pada mata, dan lain-lain. 

Penelitian menunjukkan, 60-70 persen masyarakat Indonesia, baik di pedesaan maupun perkotaan, cenderung melakukan pengobatan mandiri atau swamedikasi ini. Padahal, obat yang beredar di pasaran ada ribuan jenis dengan pelbagai fungsi. 

Nah, di sinilah kewaspadaan menjadi sangat diperlukan. Salah memilih obat, tentu bisa bahaya. Begitu pun jika dosis atau aturan pakainya tidak tepat. Jadi, harus bagaimana?


Tak semua penyakit perlu obat 

Contoh yang baik adalah apa yang dilakukan oleh orang tipe ke dua. Ia tak gampang tergoda minum obat hanya untuk mengatasi flu biasa. 

Dan memang tak semua orang sakit memerlukan obat. 

Bila seseorang batuk biasa, misalnya, minum saja air yang banyak atau bila diare biasa, tanpa disertai darah, minum saja oralit. 

Dengan cara begitu, kita telah melatih tubuh untuk memiliki daya lawan terhadap penyakit. Bahkan di negara maju, bila orang yang sakit batuk pilek biasanya juga melakukan swamedikasi dengan minum air yang banyak, ingusnya selalu dikeluarkan, istirahat cukup dan bila disertai dengan demam minum parasetamol.


Jika seseorang akan melakukan swamedikasi maka ia harus mengetahui penyebab penyakitnya, memahami khasiat obat yang hendak digunakan, efek samping, dosis, serta aturan pakai. 

Bagaimana orang awam bisa mendapatkan pengetahuan tentang obat? Tentu tak harus lewat bangku sekolah atau kuliah. Pengetahuan itu bisa didapat dari membaca brosur di kemasan maupun keaktifan mencari informasi dari internet.

Jika swamedikasi dilakukan dengan tepat, maka seseorang bisa berhemat, tidak menderita terlalu lama, dapat membantu orang lain, hidup lebih nyaman, jarang sakit, bahkan bisa awet muda. 

Ketika pusing karena kurang tidur atau stres misalnya, pergilah berekreasi atau mengerjakan hobi. Daripada minum obat pusing, misalnya, pusingnya akan hilang timbul dan itu justru akan berakibat buruk karena penggunaan obat berlebihan.


Walau kelihatannya sederhana, swamedikasi tak bisa dilakukan secara sembarangan. Dalam hal ini, ada prinsip-prinsip atau rambu-rambu yang harus diperhatikan dan ditaati. Antara lain:

Ketepatan dalam penentuan indikasi/penyakit. 

Sakit yang disebabkan oleh virus, tidak ada obatnya. Karena itu, jika seseorang menderita penyakit yang disebabkan virus, sebaiknya berusaha meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi, banyak makan buah-buahan dan sayur sayuran. Di luar negeri kalau orang sakit gondongan (radang kelenjar faringitis) biasanya hanya mengunyah permen karet supaya saluran kelenjar faringitisnya terbuka.

Ketepatan dalam memilih obat (efektif, aman dan ekonomis). 

Contohnya ketika menderita batuk. Batuk berdahak harusnya minum obat batuk ekspektoran supaya dahak keluar. Pada kasus batuk berdahak, jangan pilih obat batuk antitusif (yang berfungsi menekan batuk) sebab dahak nantinya malah tidak bisa keluar dan bisa menimbulkan infeksi paru. Sebaliknya pada batuk kering, pilih obat batuk antitusif. Sebab kalau dia minum obat batuk ekspektoran, batuknya tidak sembuh bahkan bisa menimbulkan batuk berdarah. 

Dosis harus tepat. 

Kalau petunjuknya disuruh minum satu sendok teh, harus benar-benar pakai sendok teh (biasanya sudah ada di dalam kemasan obat). Jangan sekali-kali menggunakan sendok teh di rumah karena ukurannya akan berbeda. Pemberian dosis yang tepat sangatpenting sebab bila dosis yang diberikan kurang/tidak tepat tentu tidak akan sembuh.

Tepat menilai kondisi penderita. 

Jadi, sebelum memilih obat, harus tahu kondisi dirinya atau siapa pun yang akan minum obat. Apakah ia punya alergi terhadap obat itu, menderita penyakit tertentu, berusia lanjut, masih bayi, sedang  hamil/menyusui, atau melakukan aktivitas tertentu. Saat minum antihistamin misalnya, orang mestinya tahu bahwa obat itu menyebabkan kantuk. Karena itu, jangan menyetir mobil dulu setelah minum obat ini.

Tepat cara pemberian obat. 

Obat harus diberikan sesuai dengan petunjuknya. Misalnya diminum tiga kali sehari, berarti setiap delapan jam sekali. Sementara jika empat kali sehari berarti setiap enam jam sekali, dan seterusnya. Sebelum minum obat tertentu, harus pula melihat instruksi khusus. Harus diminum sebelum makan, sesudah makan, dikunyah dulu, dan lain-lain. Kalau antibiotik ampisilin harus diminum pada waktu perut kosong. Tentu saja kalau minum antibiotik harus dengan resep dokter, jangan mengobati sendiri, karena bisa terjadi resistensi. 

Waspada terhadap efek samping dan interaksi obat.

Misalnya: antirematik/pegel linu bisa menyebabkan perdarahan lambung, dan kerusakan ginjal. Antiasma menyebabkan jantung berdebar. Antidiare menyebabkan gangguan syaraf. Glafenin menyebabkan syok, aspirin bila diminum bersama antidiabetes bisa menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah turun secara drastis).

Tepat penyerahan dan pemberian informasi. 

Dalam hal ini, setiap apotek mestinya ada petugas apoteker atau asisten apoteker. Seharusnya pula, ketika menyerahkan obat pada konsumen dijelaskan bagaimana cara minum obat, misalnya tidak boleh bersama makanan/minuman tertentu, tidak diminum dengan alkohol, bagaimana cara menyimpan obat, obatnya tidak boleh dibelah/harus dikunyah, dikocok dulu, dan lain-lain. 

Tepat tindak lanjut. 

Bila keluhan bertambah parah atau timbul efek tidak diinginkan Segera pergi ke dokter. Selain itu, jangan mengonsumsi obat berlebihan karena bisa berbahaya. Karena pada dasarnya obat itu racun. Yang membedakan obat dengan racun hanyalah dosisnya.


Foto: pexels


Label: ,