20.7.21

Jamur, Sumber Makanan yang Lezat dan Berkhasiat

Jamur tak hanya bisa dikonsumsi tapi juga berkhasiat

DOKTERINE.INFO - Siapa tak suka jamur? Sepertinya, hampir semua orang suka. Orang mengonsumsi jamur dengan banyak tujuan. Di beberapa tempat, ada jenis jamur yang dikategorikan sebagai makanan mahal dan hanya dikonsumsi oleh orang-orang dari kelas sosial tertentu. Dan tak cuma dikonsumsi sebagai kuliner lezat, jamur seperti diyakini oleh banyak orang di Jepang dan negara-negara Asia Timur lain, juga mujarab untuk menyembuhkan penyakit. 

Sebut saja jamur maitake (Grifola frondosa). Masyarakat Jepang dan Amerika Serikat mengonsumsinya sebagai sayuran. Jamur ini dipercaya dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. 

Maitake bahkan disebut-sebut mempunyai efek terkuat terhadap penekanan pertumbuhan tumor. Dibanding jenis sayuran lain, jamur juga memiliki kandungan gizi yang tinggi.

Sebagai contoh, kandungan protein kasar pada jamur merang (Volvaniella voalvacea) berkisar antara 26-30 persen dari berat keringnya. Sementara pada jamur tiram (Pleurotous ostreatus) mencapai 10,5-30 persen, dan pada jamur shiitake (Lentinula edodes) sebesar 9,6-17 persen.

Pada jamur kuping (Auricularia auricula) kandungan proteinnya mencapai 2,1-10,6 persen. Sedangkan jamur dengan kandungan protein tertinggi adalah jamur kancing (Agaricus  bisporus)  yakni sebesar 21,6-39,0 persen. 

Masih ada lagi jamur gerigit (Schizophyllum commune). Jamur yang tumbuh di kayu dan biasa dikonsumsi oleh masyarakat Lampung, Jawa Barat, dan Meksiko ini dilaporkan mengandung protein hingga 17 persen. Bandingkan dengan kandungan protein kentang bakar yang hanya 3,9 persen dari berat keringnya.

Tak cuma enak dimakan, jamur yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia itu juga berkhasiat untuk kesehatan. 

Jamur merang, misalnya, bisa menjadi obat untuk menurunkan tekanan darah dan menghambat pertumbuhan tumor. 

Sementara jamur tiram, biasa digunakan oleh masyarakat Cina sebagai obat untuk menurunkan kolesterol. 

Akan halnya dengan jamur kancing yang diyakini sangat baik untuk mereka yang menderita penyakit diabetes, dan mampu juga menekan pertumbuhan tumor. 

Shiitake bahkan menjadi obat anti kanker yang paling laris di Jepang dan Amerika Serikat. Jamur shiitake menghasilkan senyawa lentionin dan kortirtelin yang bersifat antibakteri dengan aktivitas yang sangat kuat terhadap beberapa galur bakteri penyebab diare yang resisten terhadap antibiotik ampisilin, kloramfenikol, dan tetrasiklin. 


Tapi hati-hati,  jamur ibarat pisau bermata dua. Selain bermanfaat, juga dapat merugikan tumbuhan dan juga manusia. Jamur gerigit dilaporkan berhubungan dengan infeksi pada manusia, antara lain pada kuku jari pasien. 

Di samping itu, kita juga sering mendengar kasus keracunan setelah mengonsumsi jamur. Bahkan beberapa jamur bisa mengakibatkan kematian.

Jamur jenis Amanita phalloides dan Lepiota helveola sebagai contoh jamur yang sangat berbahaya. 

Sayangnya, tidak setiap orang tahu mana jamur yang beracun dan mana yang tidak. Lalu, bagaimana cara membedakan jamur yang beracun dan tidak? 

Pengetahuan masyarakat Indonesia mengenai jamur mana saja yang bisa dikonsumsi biasanya berdasarkan pengetahuan yang disampaikan secara turun temurun.


Namun dilihat dari jumlahnya, jumlah jamur yang berbahaya ini tidak perlu dikhawatirkan. Dari sekitar 100 ribu spesies jamur, hanya ratusan yang berbahaya. 

Karena itu ia menyarankan agar masyarakat dengan aktif melakukan identifikasi. Karena pengetahuan para ahli pun sangat tergantung pada referensi yang ada. 

Hal pertama yang bisa dilakukan adalah dengan menanyai masyarakat tempat jamur - tersebut tumbuh. Sayang kalau tidak dilakukan identifikasi untuk keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia.


Label: ,