TBC Bisa Disembuhkan
TBC adalah penyakit menular
Penyakit rakyat. Begitu biasanya orang memberi cap pada Tuberkulosis (TB atau yang dikenal dengan TBC).
Dan faktanya, memang tak sedikit masyarakat Indonesia yang mengidap penyakit ini. Secara nasional, TBC membunuh kira-kira 140 ribu orang setiap tahun atau 425 orang setiap hari.
Tentu ini patut disayangkan. Sebab penyakit ini sebenarnya bisa dicegah, dan juga bisa disembuhkan.
Uraian berikut ini mudah-mudahan bisa membantu Anda untuk menghindar dari TBC. Dan kalau pun sudah terlanjur kena TBC, uraian ini akan membantu Anda untuk sembuh.
TBC sendiri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycrobacterium tuberkulosis.
TBC bukan penyakit keturunan, bukan pula disebabkan oleh kutukan atau guna-guna. Biasanya TBC menyerang paru-paru, tapi dapat juga menyerang organ tubuh lainnya seperti selaput otak, kulit, tulang, dan lain-lain.
Dalam Lembar Balik Mengenai Penyakit Tuberkulosis yang diterbitkan atas kerja sama Departemen Kesehatan (Depkes), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan AusAID disebutkan, ada dua jenis penyakit TBC yaitu:
TBC paru, yang menyerang jaringan paru dan merupakan satu satunya bentuk penyakit TBC yang mudah menular, dan paling sering dijumpai (sekitar 80 persen dari semua penderita).
TBC ekstra paru, yang menyerang organ tubuh lain di luar jaringan paru.
Lalu bagaimana penyakit ini menular?
Jika seorang penderita TBC berbicara, meludah, batuk atau bersin, maka kuman-kuman TBC yang berada di dalam paru-parunya akan menyebar ke udara.
Kuman TBC itu dapat terhirup oleh orang lain yang berada di sekitar penderita dan dapat menular pada orang-orang yang secara tak sengaja menghirupnya.
Dan dalam waktu satu tahun, seorang penderita TBC dapat menularkan penyakitnya pada 10-15 orang di sekitarnya.
Penderita TBC sendiri tentu tak ingin menularkan penyakit pada orang lain. Nah, untuk mencegah penularan ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh si penderita.
Jika si penderita batuk misalnya, maka ia harus menutup mulutnya.
Jangan pula meludah di sembarang tempat.
Untuk menampung dahak, gunakan tempat seperti tempolong atau kaleng tertutup kemudian buang dahak ke lubang WC atau timbun tampungan dahak ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian.
Penderita juga harus memperhatikan ventilasi rumahnya. Dalam hal ini, ventilasi harus cukup dan lantai tidak boleh lembap.
Selain menghindari kemungkinan penularan, menghindari TBC sebaiknya juga didukung dengan penerapan pola hidup sehat seperti: makan dengan gizi yang seimbang, istirahat yang cukup dan jangan tidur larut malam, jangan merokok, teratur menjemur kasur atau tikar agar tidak lembap, dan jangan lupa membuka jendela pada pagi hingga sore hari agar rumah mendapatkan cahaya dan udara yang cukup.
Tentang gejala penyakit TBC, kadang kala berbeda antara satu orang dengan lainnya. Tapi secara umum, gejala penyakit TBC adalah:
- Batuk disertai dengan dahak selama tiga minggu atau lebih.
- Kadang-kadang dahak yang keluar bercampur dengan darah.
- Sesak napas dengan rasa nyeri di dada.
- Nafsu makan berkurang.
- Berat badan menurun atau menjadi kurus.
- Demam lebih dari satu bulan.
- Berkeringat di malam hari, meskipun tidak melakukan kegiatan.
Bila suatu kali Anda merasakan gejala seperti itu, segera periksa ke Puskesmas, rumah sakit atau dokter.
Bila dokter mencurigai Anda mengidap penyakit TBC, biasanya ia akan meminta Anda menjalani pemeriksaan laboratorium. Jika pun dari pemeriksaan laboratorium Anda —dinyatakan positif menderita TBC, Anda tidak perlu putus asa.
Ketahuilah, penyakit ini bisa disembuhkan secara total. Caranya tidak terlalu sulit, hanya butuh kesabaran dan ketelatenan.
Apakah cara yang dimaksud? Tak lain adalah meminum semua obat yang diberikan secara teratur, sampai dinyatakan sembuh. Lama pengobatan umumnya berlangsung selama enam sampai delapan bulan.
Agar dapat minum obat secara teratur, penderita TBC membutuhkan seorang Pengawas Minum Obat (PMO).
PMO akan membantu penderita untuk mengingatkan agar dapat minum obat secara teratur sampai sembuh.
Mintalah saran dari petugas kesehatan untuk memilih seorang PMO yang sesuai untuk Anda.
Dan bagi penderita TBC yang kurang mampu, tak perlu risau pula akan biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli obat TBC. Ini karena obat TBC bisa diperoleh secara gratis di Puskesmas.
Memang, minum obat terus menerus selama enam sampai delapan bulan terasa membosankan. Tak heran, jika tak sedikit penderita TBC yang putus obat karena merasa sudah 'sehat setelah dua atau tiga bulan minum obat.
Tindakan putus obat ini sangat berbahaya. Sebab, ini akan membuat penyakit lebih sulit diobati karena ada kemungkinan penderita telah kebal terhadap obat TBC.
Selain itu, kuman TBC di dalam tubuh juga akan tumbuh dan berkembang lebih banyak. Artinya, si penderita akan membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.
Dan satu hal lagi, biaya yang harus dikeluarkan bakal lebih besar karena diperlukan obat yang lebih ampuh dan lebih banyak lagi jenisnya. Sayang sekali bukan?
