19.4.21

Fenomena Gunung Es Pada Diabetes


DOKTERINE.INFO - Terlambat mendeteksi dan baru ketahuan ketika sudah parah, itulah yang kebanyakan dialami para penderita diabetes melitus.

Disebut fenomena gunung es karena kebanyakan penyandang diabetes (untuk selanjutnya disebut diabetesi) tidak menyadari dirinya telah terjangkit penyakit ini setelah lima hingga 25 tahun. 

Akibatnya ketika penyakit ini terdeteksi, komplikasi pun telah muncul. Rata-rata diabetes baru ketahuan pada tahun ketujuh.

Kalangan dokter sendiri, sering kali tidak memberikan vonis terlalu dini ketika kadar gula darah seseorang melewati batas normal. 

Misalnya gula darahnya tinggi hanya ketika puasa saja lainnya tidak, kita belum berani menyimpulkan pasien menderita DM.

Di sisi lain, tak sedikit orang yang memang kurang peduli pada apa yang terjadi pada dirinya. Beberapa hal tak biasa seperti cepat lapar, haus, atau sering buang air kecil dianggap sesuatu yang lumrah. 

Tak heran, pasien DM kebanyakan datang setelah mengalami komplikasi. Keluhannya justru gagal ginjal, sakit jantung, luka yang tak kunjung sembuh dan lainnya. Tahu-tahu penyebab utamanya adalah DM.

Gejala DM sebenarnya bisa dipantau oleh orang awam sekalipun. Biasanya diabetesi sering merasa haus, lapar, kerap buang air kecil, cepat lelah dan lesu, gatal-gatal, luka yang tak kunjung sembuh, serta mengalami penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. 

Pada perempuan, DM ditandai dengan seringnya mengalami keputihan. Sementara pada wanita hamil, DM ditandai oleh berat badan.si jabang bayi yang biasanya lebih dari 4 kg. 

Ada beberapa hal yang menyebabkan seseorang rentan terhadap penyakit ini. Hanya saja yang perlu diketahui, DM tak hanya menyerang orang dengan riwayat DM tapi juga pada orang yang berpola makan tidak baik. 

Terlalu banyak mengonsumsi makanan instan, kurang mengonsumsi makanan berserat, serta olahraga yang tidak teratur.

Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolisme yang ditandai oleh meningkatnya kadar gula darah akibat kelainan kerja hormon insulin. 

Penyakit yang di Indonesia merupakan pembunuh manusia nomor tiga setelah jantung dan kanker ini, tidak dapat disembuhkan. 

Namun ia dapat dikontrol. Dengan kemauan dan sedikit disiplin, upaya mengontrol DM bukanlah pekerjaan yang sulit. 

Perencanaan makan, olahraga secara teratur, serta minum obat hipoglikemik (obat oral atau insulin) adalah tiga langkah yang harus dijalani penderita seumur hidupnya jika ingin tetap sehat.

Waspadai komplikasi

Keberhasilan upaya pengobatan ditandai oleh normalnya kadar gula darah. Jika ini bisa terus dipertahankan, seorang diabetesi tak ubahnya seperti orang sehat lainnya. 

Tapi sebaliknya jika ia tak berusaha mengendalikan kadar gula darahnya, maka besar kemungkinan di kemudian hari ia akan mengalami komplikasi. 

Ibarat got yang dialiri air bersin ia akan tetap bersih. Tapi kalau ada lumpur yang ikut terbawa air, tidak mustahil lumpurnya akan mengendap dan lama kelamaan menyumbat saluran airnya.

Dalam kasus DM, kadar gula yang tinggi menyebabkan darah menjadi kental dan mengakibatkan aliran darah menjadi lambat. Hal ini memungkinkan menempelnya penyakit pada dinding pembuluh darah. Tingginya kadar gula darah juga bisa mengganggu suplai glukosa dan oksigen ke jaringan. 

Akibatnya, organ-organ tubuh yang tidak mendapatkan cukup glukosa dan oksigen akan mengalami kelumpuhan atau bahkan mati. 

Terganggunya suplai oksigen ke otak misalnya, bisa mengakibatkan stroke. Sel otak akan mati atau lumpuh jika kekurangan oksigen. Lumpuhnya bisa sementara atau bahkan menetap. 

Inilah yang membuat orang hilang penglihatan, penglihatan dobel, kesemutan separuh wajah, seputar bibir, pelo ketika berbicara, dan kejang. Selain stroke, DM juga bisa memunculkan komplikasi lain seperti: kebutaan, jantung koroner, dan penyakit ginjal kronik.

Bila telah terjadi komplikasi usaha untuk menyembuhkannya biasanya amat sulit. Kerusakan umumnya akan menetap. Untuk itu sangat penting menjaga agar jangan sampai terjadi kecacatan lebih lanjut. 

Caranya, penderita harus melakukan pemeriksaan berkali-kali terhadap mata (6-12 bulan sekali), foto toraks setiap 1-2 tahun, pemeriksaan jantung dengan EKG (elektrokardiograf) setiap tahun atau jika ada keluhan, pemeriksaan urin setiap tiga bulan, dan pemeriksaan secara berkala untuk perawatan kaki. 

Diabetesi juga disarankan berhati-hati dalam memilih obat. Obat tradisional atau jamu yang konon bisa menormalkan kadar gula darah harus diwaspadai. Jangan sampai ginjalnya rusak oleh racun yang berasal dari ekstrak jamu.

Lebih baik diabetesi mengandalkan obat sintetis yang dianjurkan dokter. Meski dikonsumsi seumur hidup tidak akan membawa efek samping. Namun jika tetap yakin akan keampuhan obat tradisional, tidak ada salahnya untuk mencobanya. Hanya saja sebaiknya tetap mengonsumsi obat dokter dan konsultasi secara berkala.


Sumber foto: Pixabay | Peter Stanic


Label: ,