15.3.20

Upaya Memelihara Kesehatan Jantung

Menjaga kesehatan jantung

Menjaga agar jantung tetap sehat tentu saja sangat disarankan, terutama Anda yang sudah memasuki usia lanjut atau lansia.

Menurut Dinas Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan, penyakit kardiovaskuler atau jantung merupakan penyebab disabilitas dan kematian nomor satu di Indonesia.

Demikian juga, menurut hasil riset dari Global Burden of Disease, penyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian terbesar dunia.

Beberapa dekade lalu, penyakit ini umum menyerang pasien usia lanjut. Namun sekarang, penyakit ini ada juga menyerang golongan usia muda.

Pada golongan usia tua, penyakit kardiovaskular terjadi karena proses penuaan. Sedangkan pada golongan usia terjadi karena gaya hidup yang semakin tidak sehat.  

Terdapat beberapa keadaan yang khas disebabkan oleh proses penuaan pada manusia. Seperti organ otak, hati, ginjal maupun jantung, kemampuan kerjanya mulai menurun.

Penurunan fungsi ini tidak dapat dicegah karena memang merupakan hukum alam atau proses alami. 

Jika terdapat penyakit seperti infeksi dan lainnya maka fungsi organ yang sudah menurun ini akan menjadi lebih buruk lagi dibandingkan kalau penyakit itu menyerang penderita usia muda.

Sistem kardiovaskuler terdiri dari sistem pembuluh darah dan sistem jantung. Perubahan-perubahan pada sistem pembuluh darah diantaranya terjadi kekakuan dinding pembuluh darah tersebut. 

Akibatnya tekanan darah sistolik akan meningkat sedangkan tekanan diastolik biayanya normal atau hanya sedikit meningkat. 

Tekanan sistolik sering disebut tekanan atas, sedangkan tekanan diastolik sering disebut sebagai tekanan bawah.

Sebagai contoh tekanan darah normal 120/80 milimeterHg, 120 disebut tekanan sistolik dan 80 adalah tekanan diastolik.

Peningkatan tekanan darah ini akan mempengaruhi beberapa organ seperti otak, jantung dan ginjal.

Masalah kedua yang bisa menimbulkan gangguan pembuluh darah adalah sebab yang dikenal dengan sebutan “faktor risiko” penyakit jantung koroner. 

Faktor-faktor itu antara lain:

  • Hipertensi
  • Obesitas
  • Diabetes
  • Merokok, dan
  • Kurang aktivitas fisik

Faktor-faktor di atas memudahkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah koroner yang berfungsi menyalurkan makanan dan oksigen ke otot jantung. 

Menurut dia, jika pembuluh darah ini tersumbat maka suplai atau pasokan makanan serta oksigen akan menurun, bahkan terhenti.

Kalau suplai oksigen terhenti, otot jantung akan mengalami kematian. Jika dibiarkan terus-menerus, orang tersebut dikatakan terkena serangan jantung. 

Oleh sebab itu, faktor-faktor risiko tersebut harus dikendalikan dengan cara mengubah gaya hidup atau dengan obat-obatan.

Semakin bertambahnya umur, pada sistem jantung terjadi perubahan-perubahan seperti otot jantung yang akan lebih kaku. Akibatnya, jantung tidak dapat menerima darah terlalu banyak.

Selain itu, detak jantung akan menurun dan berakibat jantung tidak dapat memompa darah terlalu banyak. Akibat dari keadaan itu, kemampuan jantung untuk memompa darah per menit akan menurun. 

Kemampuan jantung memompa darah dalam satu menit disebut volume semenit yang merupakan ukuran bagus tidaknya fungsi jantung. Akibat dari menurunnya volume semenit, kemampuan fisik dari seorang akan menurun.

Kesimpulannya, hipertensi, penyakit jantung koroner dan kekakuan otot jantung, akan mengakibatkan gagal jantung.

Gagal jantung merupakan ketidakmampuan  jantung memompa darah yang cukup. Kalau ini terjadi maka menjadi lebih mudah lelah, nyeri dada atau yang paling fatal,menyebabkan kematian. 

Timbulnya hipertensi sistolik pada seorang lanjut usia hampir boleh dikatakan tidak dapat dicegah. 

Jika hipertensi sudah menyerang, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Langkah pertama dengan cara melakukan pengobatan non-medis misalnya dengan mengurangi asupan garam dan menurunkan berat badan. Itinya, mengubah total gaya hidup.

Langkah kedua, dengan pengobatan medis menggunakan obat-obatan penurun tekanan darah.

Adapun cara menghadapi penyakit Jantung koroner adalah dengan mengenali gejala penyakit tersebut. Yaitu rasa tidak enak di dada. 

Untuk mengurangi kemungkinan terkena penyakit jantung koroner diperlukan usaha pengendalian faktor risiko dengan cara melakukan diet serta olahraga teratur. 

Namun Jika hal tersebut tidak dapat mengendalikan faktor-faktor risiko atau terkena penyakit jantung koroner, maka diperlukan pengendalian dengan obat-obatan.

Jika gagal jantung sudah terjadi, maka justru segala aktivitas fisik yang berat harus dikurangi. Jika tidak dikurangi, malah akan memicu terjadinya serangan jantung.

Namun bukan berarti aktivitas fisik atau olahraga harus dilarang. Olahraga diperlukan sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Untuk itu beberapa pedoman dapat digunakan.

Batas maksimal dalam berolahraga ditentukan oleh umur.Dimana umur akan menentukan detak jantung maksimal. 

Rumus detak jantung maksimal adalah: 220 dikurangi umur. Misalnya, umur Anda 40 tahun, maka detak jantung maksimal anda adalah 220-40 = 180 detak/menit.

Selain oleh umur, keluhan yang timbul merupakan tanda batas maksimal telah tercapai. Meskipun detak jantung maksimal belum terlampaui.

Misalnya, seorang dengan umur 60 tahun boleh berolahraga sampai detak jantung mencapai 160 kali per menit. Tetapi bila detak jantung baru mencapai 110 kali per menit sudah timbul keluhan seperti sesak, nyeri dada, maka orang tersebut harus berhenti. Jadi detak jantung maksimal pada Orang tersebut adalah 110 per menit.

Dia dianjurkan memulai berolahraga dengan target detak jantung 60-70 persen dari 110. Yaitu sekitar 66 sampai 77 kali per menit. Setelah 4-6 minggu dosis olahraga dapat ditingkatkan dengan target detak jantung 80 persen dari 110 kali. Yaitu 88 kali per menit.

Lamanya sekali berolahraga, sebaik sekitar 30-60 menit dan diulang 3-4 kali seminggu dengan target detak jantung seperti tersebut di atas.

Setiap kali berolahraga hendaknya didahului dengan pemanasan dan diakhiri dengan pendinginan. Pemanasan dan pendinginan dilakukan kurang lebih sekitar 5-10 menit.

Alangkah baiknya jika gaya hidup sehat ini rutin dilakukan sedari muda. Selain menjaga pola makan dan berolahraga, disarankan juga untuk menghindari stress dan rutin memeriksakan kesehatan ke dokter.

Label: , , ,