17.9.20

Pilah-pilih Vitamin

vitamin dan mineral sintetik
Survei menunjukkan, setengah dari seluruh populasi orang dewasa Amerika mengonsumsi vitamin, produk suplemen makanan untuk melengkapi pola makan sehat. 

Kadang mereka menyantap makanan suplemen karena kekurangan—tepatnya merasa kekurangan—vitamin dan mineral penting lainnya. 

Sebagian lainnya mengonsumsi vitamin untuk memperbaiki kesehatan, termasuk untuk memperkokoh sistem kekebalan tubuh.

Selama ini, vitamin, mineral, dan herbal adalah suplemen makanan yang paling populer di dunia. Umumnya, ketiga unsur ini berbentuk bubuk dan padat (kapsul, tablet) yang diminum langsung atau dilarutkan ke dalam makanan atau minuman. 

Bertahun-tahun, dokter dan pakar menekankan bahwa kita tak butuh suplemen jika pola makan kita sehat dengan gizi seimbang. 

Pola makan yang sehat, menurut pakar adalah yang rendah gula dan lemak, dan kaya akan bahan nabati seperti sayuran, buah, dan biji-bijian. 

Repotnya, kadang perubahan terjadi pada tubuh dan kehidupan, yang membuat orang sukar makan.

Orang yang sedang patah hati, Menderita sakit gigi, atau sedang minum obat, biasanya akan kehilangan nafsu makan. Kebanyakan orang lanjut usia juga mulai berpantang makan.

Susu misalnya, termasuk yang banyak dipantang orang lanjut usia, karena sukar dicerna. Repotnya, tak mau minum susu akan membuat tubuh kekurangan kalsium, yang dibutuhkan tubuh untuk menguatkan tulang. 

Bagaimana jika kita tak tahu seberapa besar kebutuhan akan vitamin? Bagaimana pula mengetahui vitamin dan makanan suplemen pilihan kita cocok atau tidak? Simak informasi berikut: 

Pakar menyarankan untuk berkonsultasi pada dokter atau ahli gizi. 

Biasanya, dokter akan mengetahui vitamin atau mineral penting apa yang hilang dari makanan dengan melihat pola makan Anda. 

Jika Anda tengah minum obat, sebaiknya pikirkan pula kemungkinan efek samping jika minum vitamin tertentu. Sejumlah suplemen bisa memperburuk kondisi dan mendatangkan masalah kesehatan jika diminum bersama obat yang diresepkan dokter. 

Jika tertarik mencoba vitamin dan suplemen yang Anda baca atau dengar, teliti dulu sebelum membeli. 

Anda bisa melihat di internet atau ke pustaka untuk mengetahui kandungan vitamin yang akan Anda konsumsi. 

Kadang, klaim dari produsen saja tak cukup. Suplemen yang mengklaim bisa mempertahankan kemudaan, menumbuhkan rambut seperti sediakala, menurunkan berat badan dengan segera, atau mengobati kanker, biasanya lebih banyak klaim saja, belum terbukti secara klinis. 

Jika naluri Anda mengatakan itu terlalu berlebihan, biasanya memang begitulah adanya. 

Hati-hati dengan standar ganda. 

Meski vitamin herbal yang dijual sering diklaim berefek seperti obat, biasanya tidak demikian cara kerjanya. 

Cari tahu tentang suplemen herbal yang akan Anda konsumsi. Apakah ada efek sampingnya? Apakah meminumnya dalam dosis besar bisa berbahaya? Berapa lama suplemen herbal ini dikonsumsi? Apakah produk herbal telah menjalani uji klinis? 

Makanan Suplemen dengan dosis tinggi bisa jadi berbahaya. 

Ada aturan mengenai kadar vitamin dan mineral yang Anda minum dalam sehari agar tetap fit. 

Vitamin C, misalnya. Anda cukup minum vitamin C dengan kadar 250 mg untuk tetap bugar. Jika hari ini Anda telah makan sebutir jeruk pontianak, Anda tak perlu lagi minum tablet effervescent yang berkadar vitamin C tinggi (sekitar 500-1000 mg). 

Jika memaksakan, Anda bisa berakhir dengan diare. Atau dalam jangka panjang ginjal Anda malah menjadi sakit.

Alami tak berarti aman. 

Hanya karena suplemen mengandung bahan alami, tak berarti ia aman di konsumsi. Sering kali, produk herbal tak menyertakan peringatan mengenai efek sampingnya.

Sekali lagi, yang perlu Anda ingat sebelum membeli suplemen, bijaklah pada diri sendiri. Perhatikan pola makan Anda. Jika semua Unsur gizi telah terpenuhi, sebaiknya pikirkan lagi keinginan untuk mengkonsumsi vitamin, apalagi yang berharga mahal. Jangan lupa pula berkonsultasi pada dokter untuk Menentukan pilihan terbaik. 


Label: ,

0 Comments:

Posting Komentar

<< Home