Bijak Menghadapi Gempuran Makanan Suplemen
Sebagai manusia dengan aktivitas yang padat kita sering menyandarkan pemeliharaan kesehatannya pada vitamin.
Jika tak sempat olahraga, maka cara pintas termudah untuk menjaga kebugaran tubuh yaitu dengan teratur minum suplemen.
Berbagai macam vitamin diminum dengan harapan agar tubuh tak gampang lelah karena sekian banyak kegiatan yang harus dilakoni seharian.
Tak sedikit memang, orang yang bersandar pada vitamin atau suplemen. Kehidupan yang serba instan dan cepat membuat orang menginginkan hal yang serba praktis, termasuk dalam soal makanan.
Jika dulu orang harus makan sayur dan buah untuk memenuhi kebutuhan beragam vitamin, kini orang cukup meminum suplemen yang bisa menggantikan kebutuhan itu.
Sedemikian pentingkah suplemen dan vitamin hingga banyak yang seakan tak bisa hidup tanpa menggunakannya?
Gaya hidup tergantung suplemen itu disebabkan orang masa kini yang terbiasa dengan hal-hal yang serba instan. Tak sempat makan sayur dan buah, lalu minum suplemen dan vitamin saja untuk menggantikan unsur yang tidak terpenuhi.
Ada anggapan yang seolah menjadi satu kebenaran bahwa sekarang ini harus rajin minum vitamin agar tubuh tetap bugar.
Apalagi, propaganda media yang terus menerus mempengaruhi konsumen bahwa hidup yang sehat di masa kini adalah hidup dengan asupan vitamin tambahan.
Lihat saja iklan yang muncul di televisi, lama kelamaan orang akan beranggapan, oh ya, saya harus minum vitamin itu biar selalu sehat seperti selebriti anu.
Padahal, suplemen hanya dibutuhkan bila kecukupan zat gizi yang dibutuhkan tak memenuhi syarat.
Itu terjadi bila pola makan dan gaya hidup tak memenuhi syarat gizi seimbang, atau orang dalam kebutuhan khusus seperti ibu hamil dan menyusui, olahragawan, orang lanjut usia, dan sedang dalam masa penyembuhan.
Orang sekarang kan cenderung malas makan sayur dan buah murni, maunya yang serba instan, tinggal tuang dan telan.
Jika kebutuhan gizi sudah terpenuhi, sebenarnya asupan vitamin dan suplemen dalam bentuk instan tak diperlukan lagi. Jika memaksakan, bisa terjadi overvitaminosis.
Repotnya, informasi yang tak terbendung tentang perlunya minum vitamin membuat orang tak lagi hati-hati memilih mana vitamin yang sesuai dengan kebutuhannya.
Celakanya lagi, tak sedikit konsumen yang tak paham apa saja kandungan dalam suplemen yang diasuhnya.
Apalagi jika suplemen merupakan produk luar negeri. Jika pramuniaganya lihai merayu konsumen, pasti terjerat tanpa tahu apa saja kandungan dan manfaatnya.
Belum lagi banyak juga orang yang percaya bahwa suplemen impor lebih baik dari vitamin lokal. Sehingga rela mengeluarkan uang ratusan ribu bahkan jutaan rupiah untuk membelinya.
Kalangan menengah atas memang menjadi pasar potensial produk vitamin dan makanan suplemen dari luar.
Padahal suplemen semahal itu, bila dipindahkan menjadi makanan sehat akan mampu mencukupi kebutuhan banyak orang.
Tapi itulah, namanya juga gaya hidup, jadi berapa pun harga yang harus dibayar orang tetap akan memilihnya.
Hal yang sama juga berlaku pada ketakutan akan radikal bebas di lingkungan yang makin tercemar ini. Antioksidan, zat yang bekerja sebagai anti dari zat oksidan, yaitu radikal bebas yang merusak pembentukan protein, lemak, karbohidrat, dan DNA yang penting bagi tubuh, bisa didapat dari makanan semisal jambu klutuk yang paling kaya vitamin C, dan makanan dari kecambah dan kedelai seperti tempe, toge, dan tahu.
Jika terbiasa mengonsumsi makanan sehat dan gizi seimbang, bermacam-macam vitamin tak lagi diperlukan.
Walhasil, gempuran makanan suplemen yang disodorkan produsen sebaiknya disikapi dengan bijak. Kita sendiri yang tahu apa yang dibutuhkan tubuh. Jika tak ingin menghadapi ketakutan karena efek penuaan yang bakal datang, orang harus mencoba hidup sabar dan menerima apa adanya.

0 Comments:
Posting Komentar
<< Home